Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Waspada Kanker Tiroid, Mudah Dideteksi Tapi Sering Diabaikan

Waspada Kanker Tiroid, Mudah Dideteksi Tapi Sering Diabaikan
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
Share Article

Tangerang, IDN Times - Kanker tiroid merupakan kanker yang menyerang kelenjar tiroid. Kanker tiroid disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel di kelenjar tiroid yang tidak terkendali. Kelenjar tiroid berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak di pangkal leher. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid yang berperan dalam mengatur suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung.

Alif R Soeratman, Dokter Ahli Bedah Onkologi Siloam Hospitals Lippo Village, mengatakan lantaran berada di leher, kanker tiroid mudah dideteksi dengan pemeriksaan mandiri hanya dengan perabaan dan mata telanjang. Namun, masih banyak yang sering mengabaikan adanya kanker pada kelenjar tiroid.

"Kanker tiroid memang salah satu kanker padat, yang pertumbuhannya sangat lambat, dari stadium 1 hingga 4 bisa tahunan sehingga sering diabaikan, padahal sangat berbahaya karena bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya," ujar Alif.

1. Cara mendeteksi kanker tiroid di rumah

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Meski memiliki sifat perkembangan yang melamban, ternyata kanker pada tiroid perlu diwaspadai dan bisa dideteksi sejak dini. Cara mengenalinya pun bisa dilakukan dari rumah saja, dengan cara bercermin sembari menelan air liur.

"Yakni dengan cara bercermin, lalu cobalah secara perlahan dan beberapa kali menelan air liur. Lalu lihat, adakah benjolan atau ada yang dirasa mengganjal di area leher bagian depan," ungkapnya.

Jika memang dirasa ada yang aneh, pasien disarankan untuk langsung bertemu dengan dokter umum, baik itu di faskes I dengan menggunakan fasilitas BPJS, atau bisa langsung ke rumah sakit. Sebab nanti, langkah awal yang akan dilakukan untuk melihat benar atau tidaknya ada benjolan di area tiroid adalah dengan cara USG bagian leher.

“Itu mudah, bisa dilakukan di Puskesmas ataupun faskes I. Karena deteksi dini kanker tiroid ini sudah jadi perhatian Kemenkes sedini mungkin, jadi bisa dilakukan di fasilitas kesehatan yang sudah ada fasilitas USG nya, setelah itu bisa cek laboratorium sampai MRI, hingga operasi biopsy hingga pengangkatan benjolan tersebut di fasilitas kesehatan yang lebih lengkap lagi,” ujar Alif.

2. Perempuan lebih rentan terkena kanker tiroid

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Alif menjelaskan, sebenarnya kanker tiroid bisa dirasakan sejak awal dengan mengenali adanya benjolan di bagian depan leher. Atau benjolan di sisi kanan atau kiri leher. Lalu bila benjolan sudah menekan area saraf pita suara, akan menimbulkan suara serak, sesak napas hingga nyeri pada tulang ataupun kepala.

“Gejala kanker tiroid seringkali tidak terasa pada tahap awal, namun seiring dengan perkembangan penyakit, gejala seperti benjolan di leher, kesulitan menelan, suara serak, dan pembengkakan kelenjar getah bening dapat muncul,” katanya.

Apabila dibandingkan dengan laki-laki, perempuan di atas 40 tahun lebih rentan terhadap kanker tiroid. Pasalnya, perempuan memiliki hormonal yang lebih sensitif turun dan naik dibandingkan laki-laki.

Terlebih bila dia memiliki riwayat genetik keluarga dengan goiter atau pembesaran kelenjar tiroid. Kalau punya riwayat demikian, Alif menyarankan agar orang dengan rentan tersebut untuk rutin melakukan USG leher minimal 1 kali dalam setahun.   

“Juga rentan pada mereka yang terpapar radiasi, seperti pekerja kesehatan di radiologi, lalu kerja terus menerus terpapar matahari,” katanya.

3. Pengobatan dengan operasi hingga penggunaan nuklir

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Meski terkesan menyeramkan, sebenarnya benjolan atau kanker tiroid memiliki sifat pertumbuhan yang lebih lamban dibandingkan dengan jenis kanker lainnya. Bahkan, penderitanya bila dilihat statistiknya di Rumah Sakit Darmais Jakarta, penderita kanker tiroid menduduki ranking ketujuh, dibandingkan penderita kanker paru, payudara, hingga serviks.

“Meski begitu, bila ditemukan ada benjolan di leher, maka wajib dibiopsi lalu diangka dengan operasi. Pengangkatan jaringan kanker, termasuk Sebagian atau seluruh kelenjar tiroid,” ujar Alif.

Setelah itu, bisa dilakukan terapi. Yakni dengan terapi ablasi iodi radioktif, kemoterapi, hingga hormon tiroid pascaoperasi. Seiring berkembangnya zaman, kanker tiroid ini juga bisa dihilangkan dengan cara pengobatan nuklir. Dimana, pasien akan melakukan serangkaian tata laksana untuk pengobatan tersebut, yakni meminum obat yang mengandung nuklir.

"Ada beberapa cara untuk menangani kanker ini, bisa dengan kemoterapi, operasi dan terakhir menggunakan nuklir. Nuklir disini berbentuk obat, pil atau tablet yang diminum pasien. Pengobatan ini juga sebagai langkah akhir dari rangkaian,” katanya. 

Contoh kasus, ada pasien operasi kanker tiroid, dan ternyata setelah dilakukan MRI ulang, masih ada jaringan kanker yang tertinggal di bagian yang vital dan tidak bisa diangkat karena berisiko besar. Maka, pembasmiannya dengan menggunakan obat tersebut. 

“Itupun, pasien akan masuk ke dalam ruangan khusus selama 2 sampai 3 hari. Mengisolasikan diri, karena dalam tubuhnya ada radiasi, setelah dinilai bersih dari radiasi, diperbolehkan pulang,”katanya.

Dalam proses penanganan kanker tiroid ini harus masuk dalam kasus riskan. Hal ini karena kanker berada di leher dan bagian suara. Sehingga, akan menimbulkan suara yang serak pascapenanganan dengan sifat bisa sementara ataupun permanen.

Untuk mencegah terjadinya pertumbuhan kanker tiroid, Alif mengajak masyarakat untuk sadar akan kondisi tubuh dengan sering melakukan pengecekan kesehatan minimal satu tahun sekali. Atau melakukan deteksi secara mandiri dengan berkaca.

"Kita harus aware terhadap tubuh, dan misal untuk kasus ini, kita lihat ada benjolan di leher, jangan abai, disarankan untuk segera cek ke dokter agar penanganannya bisa dilakukan dengan cepat dan tepat, sehingga kanker tidak semakin berkembang," ungkapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
Ita Lismawati F Malau
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani

Latest News Banten

See More

Cuaca Tangerang Raya Hari Ini Didominasi Berawan dan Hujan Ringan

07 Jul 2026, 09:33 WIBNews