Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Perokok Berisiko Lebih Tinggi Terkena Saraf Kejepit

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Tangerang, IDN Times - Seseorang dengan masalah obesitas, terlebih dia adalah perokok ternyata memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami hernia nukleus pulposus (HNP) atau saraf kejepit pada tulang belakang. Sensasi yang dialami pun cukup khas, yakni rasa sakit menjalar hingga ke pinggang, paha, dan kaki.

Jephtah Tobing, Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Tulang Belakang Siloam Hospital Lippo Village menjelaskan, pria perokok berisiko tinggi mengidap HNP. Misalkan seorang perokok hidup dengan faktor risiko tersebut, ternyata bila sudah terkena, kemudian dioperasi, maka pasca-operasi penanganannya akan lebih lama daripada bukan perokok. 

"Pasien-pasien perokok kalau dioperasi, hasilnya akan selalu lebih jelek. Karena pembuluh darahnya sudah terganggu, padahal pembuluh darah itu yang mengantarkan nutrisi ke daerah cedera, jadi kalau jalan tolnya saja sudah terganggu, nutrisinya enggak nyampe," ungkapnya.

1. Obesitas dan jarang olahraga juga jadi faktor risiko HNP

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Selain merokok, Jephtah mengungkapkan, ada beberapa risiko yang bisa terjadi pada seseorang, yang bisa terserang HNP. Salah satunya yakni obesitas atau berat badan lebih dari ideal.

"Jadi mulai sekarang harus mencari tahu sendiri berapa berat badan ideal, sesuai dengan tinggi badan dan usia," kata Jephtah.

Faktor resiko lainnya, adalah jika seseorang kurang olahraga. Menurut Jephtah, olahraga rutin saat ini bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk melatih otot. Sebab, penompang tulang manusia itu adalah otot, sehingga harus dibangun masa ototnya.

"Padahal yang menjaga tulang belakang itu ada peran otot perut, sekarang yang jadi permasalahan adalah masyarakat kurang melatih otot perutnya," ujar Jephtah.

2. Kapan mulai waspada jika tulang belakang dirasa bermasalah?

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Jephtah mengungkapkan, nyeri pada tulang belakang tidak selalu karena HNP ataupun penyakit kronis lainnya. Sebab, 97 persen di antaranya karena permasalahan otot. Namun, nyeri-nyeri pada punggung bisa jadi itu adalah sinyal tubuh untuk memberi tahu kalau badan ada masalah. Seperti kelamaan duduk, kurang aktifitas fisik, hingga dipicu melakukan aktifitas di luar kebiasaan.

"Misal, mengangkat beban berat, lalu salah posisi melangkah atau memuter badan. Itu bisa jadi membuat HNP," katanya.

Jika sudah dirasa ada masalah dalam tulang punggung, sebaiknya segera datangi dokter ortopedi terdekat, untuk mendapat penanganan. Sebab kalau penanganan cepat dan tepat, pengobatan HNP tidak melulu harus berakhir di meja operasi.

"Bisa dengan obat dan fisioterapi. Rutin dan dilakukan juga di rumah, hindari larangannya, maka hitungan bulan bisa sembuh," katanya.

3. Biportal Endoscopic Spine Surgery (BESS), penyembuhan HNP minimal invasif

IDN Times/Maya Aulia Aprilianti
IDN Times/Maya Aulia Aprilianti

Saat ini, terdapat perawatan tulang belakang, yakni Biportal Endoscopic Spine Surgery (BESS), sebuah metode operasi minimal invasif yang canggih untuk mengatasi masalah tulang belakang. 

Menurut Jephtah, prosedur ini menawarkan solusi inovatif bagi pasien dengan waktu pemulihan yang lebih singkat dan ketidaknyamanan yang minimal. BESS ini dianggap telah merevolusi prosedur bedah tulang belakang, menggunakan pendekatan minimal invasif untuk menangani kondisi seperti hernia nukleus pulposus, stenosis atau penyempitan lubang saraf di tulang belakang, dan gangguan penuaan tulang belakang lainnya. 

"Tidak seperti operasi tulang belakang konvensional yang memerlukan sayatan besar, BESS hanya memerlukan dua sayatan kecil seukuran lubang kunci, yang memungkinkan dokter bedah memasukkan alat endoskopi khusus untuk menargetkan dan mengobati area yang terkena dengan presisi," katanya.

Lalu, pasien juga mengalami rasa sakit yang lebih sedikit pascaoperasi, waktu pemulihan yang lebih cepat, dan masa rawat inap yang lebih singkat.

"Sifat minimal invasif dari prosedur ini juga mengurangi risiko yang terkait dengan operasi tulang belakang konvensional," jelasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest Life Banten

See More

Ada Rumah Ala Prancis di Tangerang, Harga Mulai Rp4,3 Miliar

20 Nov 2025, 16:32 WIBLife