ALVAboard Gandeng Rekosistem, Warga Dapat Insentif Sampah

- ALVAboard bekerja sama dengan Rekosistem untuk mengelola limbah kemasan secara terintegrasi menjelang lonjakan sampah lebaran, sekaligus memberi insentif kepada masyarakat yang ikut berpartisipasi.
- Kolaborasi ini menerapkan konsep ekonomi sirkular, memastikan kemasan dikumpulkan, diproses ulang, dan kembali ke siklus produksi guna menekan volume sampah serta emisi karbon.
- Sistem pelacakan digital diterapkan agar pengelolaan limbah lebih transparan, sementara warga mendapat insentif hingga Rp2.000 per kilogram untuk kemasan ALVAboard yang disetorkan.
Tangerang, IDN Times - Menjelang lebaran, tren belanja online kembali meningkat dan berpotensi memicu lonjakan sampah kemasan. Menyikapi hal itu, produsen kemasan plastik asal Kabupaten Tangerang, ALVAboard, menggandeng Rekosistem untuk mengelola limbah kemasan secara terintegrasi sekaligus memberi insentif kepada masyarakat.
Kolaborasi ini digagas sebagai langkah konkret penerapan ekonomi sirkular di sektor kemasan, bukan sekadar kampanye lingkungan.
CEO ALVAboard, Alden Lukman menegaskan, tanggung jawab perusahaan tidak berhenti saat produk diterima konsumen. Menurutnya, siklus hidup material harus dipantau hingga tahap pascapemakaian.
“Material yang terkumpul akan dipilah, dicatat, dan diproses untuk didaur ulang sesuai standar. Kami ingin memastikan material tidak berhenti sebagai limbah, tetapi kembali masuk dalam siklus produksi,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
1. Dorong ekonomi sirkular di sektor kemasan

Melalui pendekatan ekonomi sirkular, kemasan diposisikan sebagai material bernilai yang bisa diproses ulang, bukan sekadar sampah. Sistem penyetoran terstruktur memungkinkan kemasan ALVAboard dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali.
Langkah itu diharapkan dapat mengurangi kebutuhan bahan baku baru sekaligus menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, kolaborasi tersebut juga ditargetkan berkontribusi pada penurunan emisi karbon di sektor kemasan.
2. Pengelolaan limbah berbasis teknologi

Co-founder Rekosistem, Ernest, mengatakan kerja sama ini mengedepankan sistem pelacakan digital agar pengelolaan limbah lebih transparan dan terukur.
“Setiap sampah kemasan yang disetorkan akan terlacak dan tercatat dalam sistem, sehingga laporan volume sampah dan pengurangan emisi karbon menjadi lebih akurat sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” jelasnya.
3. Warga dapat insentif hingga Rp2.000 per kilogram

Salah satu daya tarik program ini adalah pemberian insentif bagi masyarakat yang menyetorkan sampah plastik.
Untuk plastik keras, warga akan menerima Rp600 per kilogram. Sementara khusus kemasan ALVAboard, nilai insentif bisa mencapai Rp2.000 per kilogram, termasuk tambahan Rp1.400 per kilogram dari perusahaan.
Ernest berharap skema ini mampu mengubah pola pikir masyarakat terhadap sampah.
“Skema ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran bahwa kemasan memiliki nilai ekonomi dan tidak berhenti sebagai limbah,” katanya.


















