Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Cerita Mahasiswa Indonesia di Iran Saat Rudal Menghantam Teheran

Cerita Mahasiswa Indonesia di Iran Saat Rudal Menghantam Teheran
Ahmad Hukam, mahasiswa Indonesia di Iran (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya Sih

  • Serangan AS-Israel ke Iran menewaskan sekitar 1.200 orang, membuat 32 WNI termasuk mahasiswa Ahmad Hukam ikut repatriasi melalui Kementerian Luar Negeri Indonesia.
  • Kampus Ahmad di Teheran diliburkan sejak awal serangan dan masa berkabung nasional, sementara ia memilih pulang ke Banyumas sambil menunggu situasi aman.
  • Meskipun bahan pokok masih tersedia dan warga Iran tetap tenang, akses komunikasi dibatasi ketat sehingga mahasiswa kesulitan menghubungi keluarga di Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tangerang, IDN Times - Serangan AS-Israel ke Iran menewaskan sekitar 1.200 orang. Hingga kini, serangan demi serangan pun masih dilancarkan ke negara republik Islam tersebut. Kondisi tersebut membuat 32 WNI memutuskan untuk mengikuti proses repatriasi yang ditawarkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri.

Salah satunya yakni, Ahmad Hukam yang merupakan mahasiswa jurusan Sejarah Peradaban Islam di Universitas Ahlul Bait International University, Teheran.

"Karena saat kami sudah di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan akan dipulangkan saja, masih ada serangan-serangan," kata Hukam saat tiba di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/3/2026).

1. Kampusnya telah libur sejak 2 Ramadan, sejak pertama kali ada serangan

Ahmad Hukam, Mahasiswa Indonesia di Iran
Ahmad Hukam, mahasiswa Indonesia di Iran (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Saat terjadi serangan ke Iran, Hukam tengah menjalani pembelajaran di kampusnya. Saat itu, ia ingat betul masih tanggal 2 Ramadan 1447 Hijriyah. Ia masih harus kuliah seperti biasanya, hingga terdengar adanya suara ledakan.

"Saat itu seluruh mahasiswa diminta pulang dan diliburkan, hingga adanya hari berkabung karena pimpinan Iran Ali Khamenei syahid ya jadi ada masa berkabung," kata Hukam.

Hingga kini, proses pembelajaran di kampusnya belum kembali berjalan, bail secara offline maupun online. Maka itu, ia pun memutuskan untuk kembali ke Tanah Air dan berkumpul bersama keluarganya di Banyumas sembari menunggu situasi aman kembali di Iran.

"Sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi kapan pembelajaran akan kembali dilakukan, tapi saya terus berkomunikasi dengan ketua perhimpunan mahasiswa Iran dan update perkembangan," katanya.

2. Sembako masih tersedia, namun harga mulai naik

Ahmad Hukam, Mahasiswa Indonesia di Iran
Ahmad Hukam, mahasiswa Indonesia di Iran (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Hukam mengungkapkan, sejak adanya serangan di Iran, dia tidak kesulitan dalam mendapatkan bahan-bahan pokok, seperti beras, minyak, dan lain sebagainya. Bahkan, toko kelontong dekat tempat tinggalnya pun masih buka seperti biasanya.

"Memang ada kenaikan, sekarang sekitar 160-170 riyal harganya, tapi stok masih mudah didapatkan, tidak ada kepanikan," katanya.

Selain itu, warga Iran di Teheran pun masih menyambut baik warga negara asing yang membeli kebutuhan-kebutuhan pokok di sana. Tak ada panic buying, tak ada penimbunan stok bahan pokok, seluruhnya membantu sesama dan memudahkan WNA yang masih bertahan di Teheran.

"Mereka (warga Iran) baik-baik semua ke warga asing, bahkan tidak ada dipersulit atau dibedakan, semua kebutuhan pokok masih bisa dibeli bebas," ungkapnya.

Ia menerangkan, berdasarkan pandangan matanya sebagai warga negara asing di negara yang tengah mendapat serangan, warga Iran terlihat tegar dan kuat juga berkegiatan seperti biasanya. Tak ada kepanikan berlebih, jalan-jalan umum pun masih terdapat lalu lalang mobil-mobil seperti biasanya. Tak ada kemacetan di perbatasan bahkan tak ada antrean warga Iran yang ingin keluar dari Teheran untuk mengungsi ke negara lain.

"Mereka malah masih berkumpul untuk mengenang Ali Khamenei, jadi memang seperti untuk menunjukkan kekuatan rakyat Iran," jelasnya.

3. Akses komunikasi dari dan ke luar Iran masih dibatasi

Ahmad Hukam, Mahasiswa Indonesia di Iran
Ahmad Hukam, mahasiswa Indonesia di Iran (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Meski masih tergolong kondusif, namun ia mengakui bahwa akses komunikasi dari dan ke luar Iran masih sangat dibatasi oleh Pemerintah Iran. Sehingga, ia cukup kesulitan menghubungi keluarganya di Banyumas.

"Meski pakai VPN, misalnya WhatsApp hari ini bisa besok baru terkirim, karena memang dibatasi," tuturnya.

Ia pun memutuskan untuk ikut repatriasi lantaran perkuliahan yang belum dimulai, sekaligus ingin berkumpul bersama keluarga di momen Idul Fitri mendatang.

"Tapi, kalau situasi sudah aman di Iran, ingin kembali lagi untuk perkuliahan dan meneruskan pendidikan, karena saya baru 1 tahun di sana," kata dia.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More