Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Ciri-ciri Anak yang Jadi Korban Bullying, Waspadai!

Ciri-ciri Anak yang Jadi Korban Bullying, Waspadai!
stop bullying (freepik.com/Freepik)

Tangerang Selatan, IDN Times - Kasus bullying atau perundungan siswa di SMA Binus Serpong masih menjadi sorotan. Korban perundungan sempat dibawa ke rumah sakit karena menderita luka bakar. 

Tak hanya fisik, perundungan juga biasanya mempengaruhi kejiwaan anak. Orangtua pun harus semakin peka dengan kondisi anak-anaknya, terutama terkait perundungan. Lantas seperti apa ciri-ciri anak yang terkena bullying? 

Praktisi kesehatan masyarakat, Reisa Broto Asmoro menjelaskan sejumlah ciri-ciri yang bisa menjadi panduan orangtua dalam mengidentifikasi, apakah sang anak menjadi korban bullying atau tidak. 

"Orang tua perlu paham kondisi emosi anak yang mengalami perundungan," kata dia, seperti dikutip dari Antara, Selasa (27/2/2024). 

Reisa menegaskan, perundungan adalah sebuah masalah yang kompleks sehingga dibutuhkan penyelesaian yang menyeluruh, yang meliputi semua aspek kehidupan sosial si anak, mulai dari lingkaran pertemanannya, keluarga, sekolah, bahkan masyarakat.

"Tidak ada seorang pun yang pantas di-bully, dan tidak ada seorang pun yang boleh berdiam diri membiarkan hal itu terjadi, karena anak tuh nggak semuanya bisa terbuka," ujar Reisa.

Dia menjelaskan bahwa anak-anak, terutama remaja, adalah kelompok usia di mana perundungan rentan terjadi. Oleh karena itu, meski anak sudah remaja, orangtua tetap perlu memperhatikan.

1. Sejumlah ciri-ciri anak yang menjadi korban bullying, dari gelisah hingga minta uang untuk alasan tak jelas

Ilustrasi pensil yang patah (Pixabay.com/AxxLC)
Ilustrasi pensil yang patah (Pixabay.com/AxxLC)

Reisa kemudin menjelaskan bahwa orangtua perlu waspada ketika anak mulai menunjukkan kebiasaan atau karakter yang berbeda dari biasanya, seperti gelisah, cemas, waspada. " Bahkan enggan atau takut mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah," kata dia. 

Kemudian, kata dia, bisa saja sang anak kehilangan teman secara tiba-tiba. "Atau anaknya ini selalu menghindari situasi sosial, jadi menarik diri dari lingkungannya," imbuh Reisa. 

Selain itu, ujarnya, adalah barang-barang anak itu tiba-tiba hilang atau rusak, baik elektronik, pakaian, atau barang-barang pribadi lainnya. "Kadang kan suka ada bullying yang merampas ya, mengambil barang-barang tersebut," ujarnya.

Tanda-tanda lainnya, kata Reisa, yaitu apabila anak tiba-tiba meminta uang untuk alasan yang tidak jelas, atau di luar kewajaran dari kebutuhan biasanya.

2. Penurunan prestasi akademik pun bisa menjadi salah satu ciri loh

Seorang wanita sedang belajar (pexels.com/Julia M Cameron)
Seorang wanita sedang belajar (pexels.com/Julia M Cameron)

Menurut Reisa, orangtua juga perlu waspada ketika prestasi akademik si anak menurun, bahkan bisa drastis. "Anak itu jadi sering bolos, sering minta pulang. Terus banyak merasa tertekan kalau dia berada di lingkungan sekolahnya," katanya.

Anak yang jadi korban, ujarnya, bisa juga tiba-tiba ingin selalu ditemani orang dewasa terus, karena tidak merasa nyaman dan aman apabila sendirian.

Emosi korban, ujarnya, juga dapat berubah. Ada yang menjadi sangat tertutup, bahkan ada juga yang sebaliknya, menjadi sangat agresif dan meledak-ledak.

3. Ada memar, goresan, atau luka tak wajar lainnya

ilustrasi memar di lutut (vecteezy.com/Bigc Studio)
ilustrasi memar di lutut (vecteezy.com/Bigc Studio)

Selain itu, kata dia, ada tanda-tanda fisik yang dapat muncul, seperti adanya memar, goresan, atau luka lainnya yang tidak wajar. Menurutnya, hal itu tanda bahwa si anak mengalami kekerasan fisik.

"Apalagi kalau dia menutup-nutupi, sengaja nggak mau ganti baju atau memperlihatkan tubuhnya. Menutup, tiba-tiba pakai hoodie terus, tiba-tiba pakai syal terus, dan lain sebagainya," kata Reisa menjelaskan.

Kemudian, korban dapat mengalami mimpi buruk, dan tidur menjadi tidak nyaman. Selain itu, ujarnya, anak dapat kehilangan nafsu makan.

Kata Reisa, jika ada keluhan fisik dari anak, namun dia tidak mau cerita sebabnya, maka perlu ada tindak lanjut.

"Atau misalnya cyberbullying, tiba-tiba dia terfokus terus dengan gadgetnya. Atau mungkin malah justru terbalik, dia nggak mau pegang gadgetnya," katanya.

Reisa menilai perundungan adalah mata rantai yang perlu diputus, karena dampaknya tidak hanya pada korban, namun juga bagi pelaku itu sendiri dan saksi perundungan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More

Pemkab Lebak Geser Anggaran Rp6 M demi Huntap Korban Banjir Bandang

10 Mei 2026, 19:21 WIBNews