Pemprov Banten Normalisasi Sungai Cirarab, Bendung Sarakan Difungsikan

- Pemprov Banten mempercepat normalisasi Sungai Cirarab dan mengoperasikan kembali Bendung Sarakan di Kabupaten Tangerang untuk memperkuat sistem pengendalian banjir lintas daerah.
- Bendung Sarakan kini berfungsi dengan sistem hidrolik senilai Rp5 miliar, menggantikan operasi manual yang sebelumnya tidak efisien dalam mengatur debit air.
- Normalisasi sungai dilakukan terpadu antara balai, provinsi, dan kabupaten/kota guna memperlancar aliran air ke laut serta menekan risiko banjir di wilayah Tangerang Raya.
Tangerang, IDN Times — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten mempercepat normalisasi Sungai Cirarab sekaligus memperkuat sistem pengendali banjir melalui operasional Bendung Sarakan di wilayah hilir Kabupaten Tangerang. Langkah ini merupakan tindak lanjut rapat koordinasi lintas daerah di Tangerang Raya.
Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, pintu air bendung tersebut kini telah berfungsi setelah diperbaiki menggunakan sistem hidrolik dengan anggaran Rp5 miliar.
“Pintu airnya ada tujuh. Tadinya semua rusak. Nah, sekarang sudah menggunakan hidrolik, diperbaiki oleh Pemerintah Provinsi Banten tahun lalu,” ujarnya, dilansir dari kantor berita ANTARA, Selasa (25/2/2026).
1. Operasional hidrolik dinilai lebih efektif

Andra menjelaskan, sebelumnya pintu air dioperasikan secara manual dengan 20 putaran untuk membuka satu ulir. Dengan sistem hidrolik, pengaturan debit air kini dinilai jauh lebih efektif.
“Dulu kalau bukanya itu, kalau pakai manual, satu ulir itu perlu 20 putaran ya untuk satu pintu. Sekarang sudah pakai hidrolik, fungsinya Alhamdulillah fungsinya baik, tinggal menormalisasi bagian hulunya,” katanya.
Menurut Andra, sedimentasi di bagian hulu Sungai Cirarab telah mencapai sekitar dua pertiga tinggi saluran sehingga menghambat aliran air menuju laut. Karena itu, percepatan normalisasi menjadi prioritas jangka pendek.
“Nah, tinggal ke sananya kurang lebih sekitar 7 kilometer. Tapi saya dapat informasi sedimen seperti itu, berbentuk pulau-pulau kayak gitu juga banyak. Nah kami akan koordinasi dengan balai ya, bahwa ini harus kita tangani dan ini harus ditangani jangka pendek,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengendalian banjir harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir. Saat banjir besar sebelumnya, genangan terjadi di wilayah hulu seperti Gelam dan Villa Total, sementara di hilir relatif terkendali.
“Iya, artinya airnya nggak antre kan di saluran utama, dan waktu banjir kemarin, di sini nggak banjir. Hulu yang banjir,” katanya.
2. Bendung Sarakan dilengkapi sistem otomatis

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banten Arlan Marzan menambahkan, Bendung Sarakan memiliki tujuh pintu air dan rumah genset sebagai bagian dari fokus pengendalian banjir di Tangerang Raya.
“Sebelum ada alat bendung ini, konstruksinya sudah rusak. Masyarakat menutup manual dengan kayu besar supaya airnya naik kemudian masuk ke sawah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan kondisi tersebut sempat memicu banjir pada akhir 2024 karena pintu tidak dibuka kembali saat musim hujan. Kini, sistem otomatis dilengkapi petugas juru situ untuk memastikan operasional berjalan optimal.
Menurut Arlan, wilayah tersebut tergolong rawan banjir karena menjadi hilir aliran yang berdampak hingga Kabupaten dan Kota Tangerang. Normalisasi sungai sepanjang 1,7 kilometer oleh balai, 700 meter oleh provinsi, serta pekerjaan kabupaten/kota dilakukan simultan guna mempercepat aliran air ke laut dan menekan risiko banjir berulang.


















