Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
RSUD Kota Serang Disorot Wali Kota: Gedung Rusak hingga Tak Terurus
Wali Kota Serang Budi Rustandi (Dok. Khaerul Anwar)
  • Wali Kota Serang menyoroti kondisi RSUD Kota Serang yang dinilai belum memadai dan merencanakan anggaran Rp2–3 miliar untuk perbaikan fasilitas pada 2026 melalui APBD Perubahan.
  • Direktur RSUD menjelaskan keterbatasan anggaran pemeliharaan menyebabkan kerusakan di beberapa gedung, termasuk IGD dan rawat inap empat lantai yang dibangun tahun 2017.
  • Lantai tiga rumah sakit masih kosong sejak awal pembangunan dan direncanakan menjadi ruang operasi representatif dengan pendanaan besar melalui APBD Murni 2027.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times - Wali Kota Serang, Budi Rustandi menyoroti kondisi fasilitas RSUD Kota Serang yang dinilai belum memadai. Pemerintah Kota Serang pun berencana mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar untuk perbaikan pada 2026 melalui APBD Perubahan.

Budi menyayangkan sejumlah fasilitas yang terbengkalai, terutama ruang operasi yang belum berfungsi optimal. Ia menilai kondisi ini kontras dengan kualitas fisik bangunan rumah sakit yang sebenarnya lebih representatif dibanding fasilitas kesehatan lain di daerah.

1. Perbaikan diperlukan untuk meningkatkan kualitas layanan

Wali Kota Serang Budi tempel stiker kendaran pegawai yang nunggak pajak (Dok. Khaerul Anwar)

Menurutnya, perbaikan menyeluruh perlu segera dilakukan agar kualitas layanan meningkat sekaligus mendongkrak akreditasi rumah sakit yang saat ini masih berstatus tipe C.

“Kita perbaiki dulu fasilitasnya, karena sayang ya. Padahal rumah sakit kita ini lebih bagus dari yang lain dari segi bangunan. Cuma pendukung pemeliharaan dan fasilitasnya yang kurang,” ujar Budi, Senin (6/4/2026).

2. Anggaran pemeliharaan terbatas disebut penyebab sejumlah bangunan rusak

Ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Serang, Humaryadi mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran pemeliharaan menjadi penyebab utama penurunan kualitas fasilitas. Dampaknya terlihat dari berbagai kerusakan, mulai dari cat mengelupas hingga plafon bocor di sejumlah gedung.

Kerusakan tersebut terjadi di beberapa bangunan, seperti gedung terpadu, IGD, hingga gedung rawat inap empat lantai. Gedung rawat inap yang dibangun pada 2017 dan memiliki kapasitas 100 tempat tidur disebut sebagai yang paling parah kondisinya.

"Di gedung terpadu, gedung IGD, dan gedung rawat inap empat lantai mengalami kerusakan. Gedung yang paling lama adalah yang dibangun pada tahun 2017, yaitu gedung rawat inap," katanya.

3. Ruang operasi terbengkalai sejak berdiri karena fasilitas tak memadai

ilustrasi anggaran (IDN Times/Aditya Pratama)

Selain itu, lantai tiga rumah sakit hingga kini masih kosong sejak awal pembangunan. Area tersebut direncanakan akan difungsikan sebagai ruang operasi yang lebih representatif, dengan rencana pendanaan skala besar melalui APBD Murni 2027.

"Kami bersyukur akhirnya, gedung RSUD akhirnya mendapatkan perhatian dan intervensi penuh dari pemerintah daerah," katanya.

Editorial Team