Rupiah Melemah, Harga Rumah di Tangerang Diprediksi Naik

- Melemahnya rupiah terhadap dolar membuat harga material impor seperti besi dan marmer naik, sehingga berdampak langsung pada kenaikan harga rumah di Tangerang.
- Pengembang memprediksi harga rumah akan naik sekitar 10–15 persen akibat inflasi, kenaikan harga tanah, serta meningkatnya biaya bahan bakar dan bahan bangunan.
- Pembeli disarankan membeli rumah sekarang sebelum harga naik, sementara tren pembelian melalui KPR masih mendominasi sekitar 60 persen di wilayah Tangerang.
Tangerang, IDN Times - Melemahnya harga tukar rupiah terhadap dolar Amerika diprediksi bakal berpengaruh terhadap harga produk properti, termasuk rumah hunian di Tangerang. Seperti diungkapkan pengembang di Tangerang, Paramount Land.
"Pasti sedikit banyak berpengaruh, apalagi untuk rumah yang menggunakan banyak material impor," kata Chrissandy, Chrissandy Dave, Direktur Paramount Land, Kamis (14/5/2026).
1. Bahan-bahan konstruksi berpengaruh pada dolar

Chrissandy mengungkapkan, harga dolar mempengaruhi banyak harga konstruksi dari properti, seperti besi, marmer, hingga produk interior. Untuk itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan berpengaruh pada harga rumah.
"Kita bisa lihat ya dari tahun ke tahun saja harga rumah semakin naik, kalau dulu rumah Rp 5 M itu bisa beli di kawasan Menteng, sekarang di Tangerang," ungkapnya.
2. Kenaikan diprediksi mencapai 10-15 persen

Ia mengungkapkan, kenaikan harga rumah memang dipengaruhi berbagai hal, termasuk kenaikan harga tanah. Namun, inflasi juga sangat menentukan kenaikan harga rumah lantaran saat membangun rumah melibatkan banyak sektor.
"Kalau suplier-suplier bahan bangunan naik, ya tentu kami harus naikkan harga rumah," kata Chrissandy.
Ia mencontohkan, berbagai harga tahun ini sudah mulai naik, seperti logam mulia (LM) maupun harga bahan bakar minyak. Ia mengungkapkan, harga bahan bakar minyak pun mempengaruhi bahan baku dari pembangunan hunian.
3. Jika ada dana untuk membeli rumah, sebaiknya dilakukan sekarang

Ia menuturkan, bagi yang telah memiliki dana baik untuk membeli rumah, baik itu untuk pembayaran lunas, uang muka maupun KPR, ada baiknya untuk membeli rumah saat ini. Pasalnya, saat ini merupakan transisi para pengembang dalam menjual rumah yang bahan-bahannya telah dibeli, sehingga belum ada kenaikan harga.
"Bisa 1 sampai 2 bulan lagi harganya naik," ungkap Chrissandy.
Chrissandy mengungkapkan, banyak masyarakat yang telah memiliki dana dan target rumah yang ingin dibeli menunda-nunda pembelian karena menunggu situasi ekonomi stabil. Nyatanya, harga rumah tak pernah turun, terutama di lokasi strategis.
"Kalau punya dananya, tapi ragu karena keadaan, itu salah. Mending diambil sekarang," tuturnya.
4. Tren metode KPR dalam pembelian rumah masih mendominasi di Tangerang

Chrissandy menegaskan, saat ini metode Kredit Perumahan Rakyat (KPR) ke bank-bank masih mendominasi pembelian rumah di Tangerang yakni sekitar 60 persen. Sementara, 40 persennya tunai dan cicil bertahap ke pengembang.
Namun saat ini, banyak pula pembeli yang menyicil uang muka ke developer untuk mengamankan rumah impiannya. Selanjutnya, baru mengurus KPR ke bank.
"karena ada ketidakpastian ekonomi, jadi yang penting stabil dulu, nanti urusan mau KPR-nya akad besar urusan 10-15 tahun urusan panjang," ungkapnya.
Namun, untuk pembelian komersial, seperti ruko, Chrissandy mengungkapkan pada saat ini banyak pebisnis yang menggunakan metode pembayaran cicilan bertahap ke pengembang. Pasalnya, banyak pula pebisnis yang tak ingin ribet dengan BI Checking ke bank.
"Karena kalau komersial itu cicilan bertahap bisa tenor 48 bulan, bahkan sampai 10 tahun dengan cicilan flat dan bunga sama dengan bank," pungkasnya.



















