Hewan Kurban Dijual di Pinggir Jalan, Resiko Tinggi Terkena Penyakit

- Dinas Pertanian Banten mengingatkan risiko tinggi penyakit pada hewan kurban yang dijual di pinggir jalan akibat stres dan paparan polusi dari lalu lintas padat.
- Petugas tidak memberikan antibiotik suntik pada hewan kurban di lapak untuk mencegah residu obat dan potensi resistensi antibiotik pada daging konsumsi masyarakat.
- Distan Banten menggelar bimtek serta pemeriksaan ante mortem dan post mortem guna memastikan daging kurban aman, sehat, utuh, dan halal selama Iduladha 2026.
Serang, IDN Times – Dinas Pertanian Provinsi Banten mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat membeli hewan kurban di lapak pinggir jalan. Kondisi lingkungan dengan lalu lintas padat dan polusi tinggi dinilai membuat hewan lebih rentan stres dan terserang penyakit.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Pertanian Banten, Ari Mardian mengatakan, perpindahan hewan dari kandang ke lokasi penjualan sementara dapat memicu gangguan kesehatan ringan, seperti iritasi mata, batuk, dan ingusan.
“Terutama karena rata-rata lapak berada di pinggir jalan dengan mobil dan motor lalu-lalang cukup tinggi. Tingkat polusinya juga tinggi, sehingga hewan lebih rentan terkena penyakit,” kata Ari, Selasa (12/5/2026).
1. Selain stres, hewan kurban rawan terkena penyakit menular

Selain penyakit akibat stres, pihaknya juga mewaspadai sejumlah penyakit menular pada ternak, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), lumpy skin disease (LSD), anthrax, hingga brucellosis.
Ari menjelaskan, jika ditemukan hewan sakit, petugas akan meminta pedagang memisahkan ternak tersebut agar tidak diperjualbelikan. "Penanganan dilakukan menggunakan obat topikal yang dioleskan langsung pada tubuh hewan," katanya.
2. Petugas tak beri antibiotik suntik pada hewan yang dijual di lapak karena berisiko tinggi

Menurutnya, Dinas Pertanian sengaja tidak memberikan antibiotik suntik pada hewan kurban yang dijual di lapak karena khawatir hewan tetap dipasarkan sebelum masa aman konsumsi selesai. Kondisi itu berpotensi menimbulkan residu antibiotik pada daging yang dikonsumsi masyarakat.
“Kalau disuntik antibiotik lalu tetap dijual, itu tidak boleh karena bisa menimbulkan resistensi antibiotik bagi konsumen,” ujarnya.
3. Distan Banten telah menggelar bimtek bagi pengurus masjid hingga instansi vertikal

Untuk pengawasan Iduladha tahun ini, Dinas Pertanian Banten telah menggelar bimbingan teknis yang diikuti pengurus masjid, aparatur kabupaten/kota bidang peternakan, hingga instansi vertikal. Pemeriksaan ante mortem terhadap hewan kurban dijadwalkan mulai 26 Mei 2026 di sejumlah masjid dan instansi, seperti BPKP, Polda Banten, Kejati Banten, hingga Kopassus.
Selanjutnya, pada hari pemotongan kurban 27 Mei 2026, tim gabungan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terkait higienitas, sanitasi lingkungan, proses penyembelihan, hingga kondisi daging dan jeroan.
“Tujuannya agar daging dan jeroan yang dibagikan benar-benar aman, sehat, utuh, dan halal,” kata Ari.


















