Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
1.139 Hektare Sawah di Banten Kekeringan, 320 Ha Terancam Gagal Panen
ilustrasi tanah kering dan retak dengan batang padi yang menggambarkan kekeringan (pexels.com/Kevin Yung)

Serang, IDN Times - Musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino mulai mengancam ketahanan pangan di Provinsi Banten. Dinas Pertanian Provinsi Banten mencatat sebanyak 1.139 hektare tanaman padi terdampak kekeringan sepanjang musim tanam 2026 sejak akhir Mei hingga 10 Juli.

Dari jumlah tersebut, 320 hektare berada dalam kondisi terancam puso atau gagal panen.

1. Irigasi mengering, hujan tak kunjung turun

Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saiful Bahri Maemun, mengatakan lahan terdampak terdiri atas 937 hektare dengan tingkat kerusakan ringan, 117 hektare sedang, dan 85 hektare berat.

Sebanyak 28,5 hektare telah pulih, sementara 400 hektare dipanen lebih awal untuk menyelamatkan hasil produksi.

"Tanpa pasokan air dari saluran irigasi, satu-satunya harapan petani adalah curah hujan yang justru tidak turun dalam beberapa bulan terakhir," kata Saiful, Senin (20/7/2026).

2. Pandeglang daerah terdampak paling luas

ilustrasi sawah kering yang menunjukkan dampak perubahan iklim di negara berkembang (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)

Pandeglang menjadi wilayah dengan dampak paling luas, yakni 593 hektare sawah terdampak. Sebanyak 400 hektare di antaranya dipanen lebih awal. Sementara Kabupaten Serang mencatat 451 hektare terdampak dengan 320 hektare berada dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen.

Kabupaten Tangerang melaporkan 81 hektare sawah terdampak, sedangkan Kabupaten Lebak mencatat 14 hektare, dengan sebagian lahan mulai pulih berkat hujan lokal.

Berdasarkan hasil pemantauan Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), sedikitnya empat faktor memperparah kekeringan, yakni minimnya curah hujan, tidak tersedianya sumber air permukaan, debit air yang menyusut hingga mengering, serta lokasi sumber air yang terlalu jauh dari lahan persawahan sehingga menyulitkan proses pompanisasi.

Upaya darurat melalui pompanisasi juga belum sepenuhnya efektif. Di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, bantuan selang sepanjang 100 meter belum mampu mengalirkan air ke seluruh areal sawah yang berjarak hingga 900 meter dari sumber air.

"Untuk mengurangi risiko kerugian, Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, seperti penggunaan varietas padi tahan kekeringan, penyesuaian pola tanam berdasarkan kalender iklim, penerapan sistem tumpang sari, pengembangan tanaman palawija di lahan kering, hingga pemanfaatan sumur dalam di daerah yang belum memiliki jaringan irigasi," katanya.

3. Ada 415 titik rawan kekeringan sampai Agustus 2026

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten memetakan 415 titik rawan kekeringan hingga puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung sampai Agustus 2026. Pandeglang menjadi daerah dengan potensi titik kekeringan terbanyak, disusul Lebak, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Tangerang Selatan, Kota Serang, dan Kota Cilegon.

Kepala Pelaksana BPBD Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan dampak El Nino diperkirakan lebih dulu dirasakan di wilayah pesisir utara Banten.

"Sektor pertanian dan penyediaan air bersih menjadi dua sektor yang paling rentan terdampak musim kemarau tahun ini," ujarnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article