ilustrasi sawah kering yang menunjukkan dampak perubahan iklim di negara berkembang (unsplash.com/Md. Hasanuzzaman Himel)
Pandeglang menjadi wilayah dengan dampak paling luas, yakni 593 hektare sawah terdampak. Sebanyak 400 hektare di antaranya dipanen lebih awal. Sementara Kabupaten Serang mencatat 451 hektare terdampak dengan 320 hektare berada dalam kondisi kritis dan terancam gagal panen.
Kabupaten Tangerang melaporkan 81 hektare sawah terdampak, sedangkan Kabupaten Lebak mencatat 14 hektare, dengan sebagian lahan mulai pulih berkat hujan lokal.
Berdasarkan hasil pemantauan Pengawas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), sedikitnya empat faktor memperparah kekeringan, yakni minimnya curah hujan, tidak tersedianya sumber air permukaan, debit air yang menyusut hingga mengering, serta lokasi sumber air yang terlalu jauh dari lahan persawahan sehingga menyulitkan proses pompanisasi.
Upaya darurat melalui pompanisasi juga belum sepenuhnya efektif. Di Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, bantuan selang sepanjang 100 meter belum mampu mengalirkan air ke seluruh areal sawah yang berjarak hingga 900 meter dari sumber air.
"Untuk mengurangi risiko kerugian, Dinas Pertanian menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, seperti penggunaan varietas padi tahan kekeringan, penyesuaian pola tanam berdasarkan kalender iklim, penerapan sistem tumpang sari, pengembangan tanaman palawija di lahan kering, hingga pemanfaatan sumur dalam di daerah yang belum memiliki jaringan irigasi," katanya.