Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Soal Lawakan Salat di Mens Rea, FPI: Jangan Sampai Al Maidah Terulang

Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI
Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya sih...
  • FPI menegaskan penistaan agama jangan sampai seperti kasus Al Maidah
  • FPI akan laporkan Pandji ke polisi terkait materi salat dalam stand-up comedy Mens Rea
  • 15 poin pernyataan sikap FPI terkait kritik Pandji terhadap agama Islam
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang, IDN Times - Front Persaudaraan Islam (FPI) menyebut bahwa salah satu materi lawakan di panggung stand-up comedy bertajuk Mens Rea dari Pandji Pragiwaksono sebagai bentuk penistaan agama. Pasalnya, dalam video yang diunggah di platform Netflix tersebut menyebut salah satu fondasi penting dalam agama Islam yakni salat tak boleh diperolok-olok.

"Kita tidak boleh menodai, menganggap remeh menganggap sepele tentang Allah, ayat-ayat Allah, syiar-syiar Allah apalagi tentang salat, karena salat adalah bagian daripada fondasi dalam agama Islam," kata Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI, di Bandara Soekarno-Hatta, Kamis (15/1/2025).

1. FPI sebut kasus penistaan agama ini jangan sampai seperti kasus Al Maidah

Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI
Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Ahmad menyebut, siapapun dari kelompok manapun tak boleh menyepelekan dan merendahkan agama. Seperti yang telah tertulis dalam hukum di Indonesia.

"Jangan sampai terulang kejadian September 2016, ingat dulu kasus Al-Maidah 51, sampai demo berjilid-jilid akibat penanganan yang lambat, kalau penanganan cepat, insyaallah tidak akan sebesar tahun 2016," ungkap dia.

2. FPI bakal laporkan Pandji ke polisi

Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)
Pandji Pragiwaksono (dok. Netflix/Mens Rea)

Ahmad pun memastikan, pimpinan pusat FPI telah mengeluarkan surat secara resmi tanggal 12 Januari 2026 lalu yang berisi 15 poin, di mana salah satunya akan menempuh langkah hukum terkait materi salat dalam pertunjukan stand-up comedy Mens Rea tersebut. Surat tersebut dikeluarkan setelah pihaknya melakukan kajian-kajian dalam segi agama Islam.

"Siapa saja yang menistakan agama, kami akan menjadi garda terdepan untuk memprosesnya atau mengawal proses tersebut," jelasnya.

Adapun, materi yang bakal dilaporkan yakni mengenai materi salat, yakni di antaranya kalimat 'memang harus diakui alasan kita pilih pemimpin harus lebih baik. Soalnya alasan lu aneh-aneh!'. Lalu kalimat 'ada orang milih pemimpin berdasarkan ibadahnya, gua mau milih yang salatnya enggak pernah bolong'. Lalu, 'seakan-akan kalau salatnya enggak pernah bolong berarti orang baik, emang iya? Orang rajin!'. Selanjutnya kalimat 'Para penumpang yang terhormat, kita sedang mengalami turbulensi akibat gangguan cuaca. Harap longgarkan sabuk pengaman dan rapatkan saf. Kita salat safar berjamaah demi keselamatan perjalanan'.

Padahal, kata dia, kesalehan ibadah seseorang adalah salah satu syarat penting yang menjadi tolok ukut kepemimpinan dalam islam yang didasarkan oleh dalil Al Qur'an maupun sunnah Nabi Muhammad dan ijma' ulama, bukan barang aneh yang boleh ditertawakan.

"Tentunya, islam juga mensyaratkan berbagai kriteria lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pemimpin," tuturnya.

Selain itu, ia juga mengkritik pembahasan Pandji yang dianggap keliru soal salat sunnah safar. Pasalnya, tidak ada tuntunan salat safar di atas pesawat terbang, melainkan sebelum perjalanan.

"Engga ada turbulensi salat sunah safar di pesawat. Kami ada bagian hukum FPI yg akan menangani," jelasnya.

3. 15 poin pernyataan sikap FPI

Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI
Ahmad Qurthuby Jaelani, Imam Pusat DPP FPI (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Berikut, 15 poin yang ada dalam surat pernyataan sikap dari DPP FPI:

  1. Bahwa kritik yang dilakukan Pandji terhadap perilaku penguasa dalam materi komedinya adalah hal wajar dalam kehidupan bernegara, yang perlu menjadi perhatian pemerintah ssbagai bagian dari upaya perbaikan pemerintah;
  2. Bahwa sayangnya kritikan baik yang dilancarkan Pandji tercemari dengan ungkapan yang tidak lucu terkait dengan permasalahan Shalat yang merupakan fondasi penting dalam ajaran agama Islam;
  3. Bahwa salat adalah Rukun Islam dan fondasi penting bagi agama Islam yang tidak boleh diperolok-olok, apalagi menjadi bahan lelucon. Shalat justru menjadi faktor penting dalam menilai baiknya seseorang, karena seorang muslim yang baik pasti senantiasa melaksanakan Shalat;
  4. Bahwa Pandji menyebut sekaligus menertawakan orang yang memilih pemimpin dengan melihat ibadahnya, serta melabeli dengan sebutan aneh, padahal kesalehan ibadah seseorang adalah salah satu syarat penting yang menjadi tolok ukur kepemimpinan dalam Islam yang didasarkan oleh dalil Al Quran maupun sunnah Nabi Muhammad SAW, dan juga Ijma' Ulama, bukan barang aneh yang boleh ditertawakan. Tentunya, Islam juga mensyaratkan berbagai kriteria lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pemimpin;
  5. Bahwa sikap Pandji mengolok-olok syarat Ibadah dan mendirikan Shalat bagi pemimpin adalah sikap inkar kepada syarat yang ditetapkan Al Quran. Padahal Allah SWT telah menegaskan dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 55 bahwa penolong/pembela/pemimpin/pelindung umat Islam adalah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman yang mendirikan salat dan membayar zakat;
  6. Bahwa Pandji juga menyebutkan bahwa orang yang rajin shalat belum tentu baik, sehingga memberi kesan shalat tidak penting bagi kebaikan seseorang, terutama seorang pemimpin. Padahal Al Quran secara tegas dan jelas mengatakan bahwa shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kalaupun ada orang yang terlihat rajin shalat tetapi tetap bermaksiat, bukan shalatnya yang salah, karena KALAMULLAH PASTI BENAR DAN MUSTAHIL SALAH, tetapi yang salah adalah orang yang tidak sempurna shalatnya, seperti kurang lengkap syaratnya/tidak sempurna rukunnyq/kurang khusyu' pelaksanaannya, atau bisa juga akibat shalatnya bercampur dengan tempat/pakaian/makanan yang haram, sehingga shalatnya tidak menjadi benteng baginya dari kemaksiatan dan kemungkaran. Selain itu penting dicamkan: orang yang shalatnya tidak sempurna belum tentu baik, apalagi yang tidak shalat;
  7. Bahwa tindakan Pandji yang memperolok preferensi memilih pemimpin yang rajib shalat adalah bentuk penghinaan terhadap sunnah Nabi Muhammad SAW yang menjadikan shalat itu sebagai standar minimal bagi rakyat untuk tetap wajib memberikan loyalitas dan tidak memberontak terhadap pemimpinnya, sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam kitab Sahih Muslim hadits nomor 1855.
  8. Bahwa analogi "shalat belum tentu baik" dengan "rajin belum tentu pintar", adalah kesesatan berpikir sekaligus merendahkan Ibadah Shalat dan sifat rajin. Padahal shalat adalah jalan kebaikan sekaligus benteng dari keburukan, begitu pula sifat rajin dalam belajar adalah modal untuk pintar;
  9. Bahwa analogi kepemimpinan negara dalam Islam dengan kepemimpinan pilot dalam pesawat, juga merupakan kesesatan berpikir sekaligus bentuk keterbelakangan intelektual, karena aturan muamalat umat Islam dengan orang kafir berbeda dengan atuean kepemimpinan dalam Islam;
  10. Bahwa Pandji juga memperolok Sunnah Nabi Muhammad SAW tentang Shalat safar dan merapikan shof untuk shalat berjamaah, lewat cerita pilot yang meminta penumpang merapikan shof untuk shalat safar berjamaah demi keselamatan saat pesawat dalam kondisi turbulensi;
  11. Bahwa oleh karena itu pernyataan Pandji tersebut adalah bentuk penistaan terhadap Shalat yang merupakan fondasi penting Islam dan juga merupakan syi'ar bagi agama Islam, sehingga kami meminta kepada saudara Pandji melakukan TAUBAT NASUHA dengan memohon ampun kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada umat Islam;
  12. Bahwa kami akan mengawal serta mengawasi proses hukum terkait dengan penistaan agama sebagaimana disebut di atas, agar terjadi penegakan hukum sesuai dengan hukum yang berlaku;
  13. Bahwa kami juga menuntut Pemerintah dan NETFLIX untuk menghapus/memotong/menyensor/menghilangkan bagian yang memuat pernyataan yang menistakan agama oleh Pandji terkait Shalat;
  14. Bahwa diserukan kepada para komedian atau pelawak lainnya, agar tidak menjadikan simbol-simbol maupun ajaran agama sebagai bahan untuk candaan dan olok-olok, karena kita hidup di negara yang berdasarkan Pancasila dimana agama dijunjung tinggi;
  15. Bahwa kami menyerukan segenap Umat Islam agar jeli dan peka terhadap persoalan Penistaan Agama, agar tidak terjadi sikap mendukung dan memuji kritikan tokoh yang baik dan membangun terhadap Pemerintah, tapi menutup mata dari penodaan Agama yang dikemas dalam kritikan tersebut, karena prinsip pergaulan hidup beragama dan bernegara adalah: "Siapapun tidak boleh menista agama manapun sesuai Hukum Agama dan Hukum Negara".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Banten

See More

Kasus Sampah Tangsel, Ahli: Salah Administrasi Bukan Korupsi

15 Jan 2026, 15:27 WIBNews