Orangtua siswa dan Yayasan SDIP Pamulang audiensi dengan Gubernur Banten, Andra Soni soal polemik dengan UIN Jakarta (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Sementara itu, salah satu orangtua siswa, Tami mengungkapkan bahwa dirinya sejak awal enggan untuk ikut campur dalam konflik internal yayasan. Namun, usai adanya aksi premanisme dan pengrusakan yang terjadi pada 4 Juni 2026 lalu, ia menilai hal tersebut telah mempengaruhi dan mengancam keamanan dan kenyamanan anaknya di sekolah.
"Kami jujur saja tidak memihak ke yayasan manapun, tapi jika sudah menyangkut keamanan dan keselamatan anak kami, itu yang membuat akhirnya orangtua-orangtua ini ikut bergerak, karena bukan hanya 1 kali tapi sudah 3 kali ormas itu datang," kata Tami.
Belum lagi, saat penggerudukan 22 Juni 2026, sebanyak 200 orang dari anggota ormas pesanan UIN Jakarta menduduki sekolah dan memasuki ruang kelas anak-anak sembari merokok, bermain kartu remi, dan melakukan hal lainnya yang tak sepantasnya dilakukan di sekolah.
"Bahkan, sendal, sepatu, hingga uang kas kelas hilang, kelas berantakan dan bau rokok hingga akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh," kata Tami.
Orangtua lainnya, Brian menginginkan agar, usai audiensi dengan Gubernur Banten, keamanan dan kenyamanan anak-anaknya dalam bersekolah bisa dijamin dan diawasi oleh semua pihak.
"Kami meminta atensi Pak Gubernur, pendekatan politik beliau kepada pihak-pihak terkait untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan di luar hukum, terutama untuk pihak yang kemarin melakukan tindakan anarkisme, kami minta ke depan tidak terjadi kejadian serupa," kata Brian.