Banjir Rendam Ribuan Rumah di Cilegon, Warga Keluhkan Minim Bantuan

- Banjir besar melanda tiga kecamatan di Kota Cilegon, yaitu Cibeber, Purwakarta, dan Grogol, dengan ribuan rumah warga terendam air hingga lebih dari satu meter.
- Perumahan Metro Cilegon menjadi salah satu lokasi terdampak paling parah, di mana ketinggian air mencapai dua meter dan merendam ratusan unit rumah.
- Warga mengeluhkan minimnya bantuan logistik dari pemerintah, karena hingga Minggu siang hanya perahu karet untuk evakuasi yang tersedia tanpa pasokan makanan memadai.
Cilegon, IDN Times – Banjir yang melanda Kota Cilegon, Banten sejak Sabtu (7/3/2026) malam hingga Minggu (8/3/2026) mengakibatkan ribuan rumah di sejumlah kecamatan terdampak. Genangan air bahkan mencapai lebih dari satu meter di beberapa kawasan permukiman warga.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon, terdapat tiga kecamatan yang terdampak banjir, yakni Kecamatan Cibeber, Kecamatan Purwakarta, dan Kecamatan Grogol.
1. Titik banjir di tiga kecamatan Cilegon

Di Kecamatan Cibeber, banjir terjadi di kawasan Perumahan PCI. Sementara di Kecamatan Purwakarta, wilayah yang terdampak berada di Kelurahan Kebondalem, tepatnya di Perumahan Metro Cilegon dengan jumlah rumah terendam mencapai 834 unit.
Sedangkan di Kecamatan Grogol, banjir merendam 110 rumah di Lingkungan Tegal Wangi Kruwuk, 50 rumah di Lingkungan Waseh, dan 50 rumah lainnya di Lingkungan Masigit.
2. Ketinggian banjir hingga dua meter

Salah satu kawasan yang terdampak cukup parah adalah Perumahan Metro Cilegon. Warga Kluster Vila, Agus Setiawan, mengatakan, banjir mulai masuk ke kawasan perumahan sekitar pukul 02.00 WIB, beberapa saat sebelum warga melaksanakan sahur.
“Air mulai naik itu sekitar jam 02.00 WIB pagi menjelang sahur. Sempat surut sebentar, tapi tiba-tiba malah naik lagi dan lebih tinggi,” ujar Agus.
Ia menjelaskan rumahnya tidak terlalu terdampak karena air tidak sampai masuk ke dalam rumah. Namun, di klaster lain, genangan air jauh lebih parah hingga mencapai dua meter.
“Kalau di sini sampai leher. Kalau di rumah saya tidak masuk. Tapi yang parah itu di Blok C1, airnya sampai dua meter,” katanya.
3. Warga mengeluhkan minim bantuan logistik dari pemerintah

Menurut Agus, hingga Minggu siang banjir masih belum sepenuhnya surut. Bantuan yang datang baru sebatas perahu karet untuk evakuasi warga, sementara bantuan logistik belum diterima.
“Sampai sekarang belum surut, surutnya lambat. Bantuan baru perahu saja, untuk makan belum ada,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Kluster Florida, Udin. Ia mengatakan banjir yang terjadi kali ini tergolong cukup parah dengan ketinggian air mencapai sekitar 1,5 meter di dalam rumahnya.
“Hujan itu terjadi saat salat Tarawih. Kalau tidak salah, sekitar jam 24.00 WIB air sudah penuh masuk,” ujar Udin.
Ia menuturkan air masuk dari pintu gerbang klaster hingga mengalir ke rumah-rumah warga.
“Naiknya sampai 1,5 meter, itu bisa dilihat,” katanya.
Akibat banjir tersebut, sebagian besar perabotan rumah tangga miliknya tidak dapat diselamatkan. Bahkan sejumlah kendaraan milik warga ikut terendam.
“Tidak ada yang bisa diselamatkan. Mobil saja ada lima yang terendam,” tuturnya.
Udin menduga banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga karena luapan kali yang berada di samping kawasan perumahan.
“Air juga datang dari kali di sana, meluap,” ujarnya.
















