Harga Spare Part dan Oli Mobil Naik, Bengkel di Tangerang Terdampak

Harga spare part mobil di Kabupaten Tangerang naik sekitar 10 persen sejak setelah Idul Fitri 2026, dipicu kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada oli mesin yang melonjak lebih dari 20 persen dalam beberapa hari terakhir, dari Rp90 ribu menjadi Rp110 ribu per liter.
Pemilik bengkel mengaku kesulitan menjelaskan kenaikan harga kepada pelanggan karena banyak yang tetap menuntut biaya servis murah meski harga komponen meningkat.
Tangerang, IDN Times - Kenaikan harga spare part dan pelumas mesin mulai dirasakan pelaku usaha bengkel mobil di Kabupaten Tangerang. Kondisi tersebut disebut terjadi sejak setelah Idul Fitri 2026 dan belakangan semakin terasa, terutama untuk harga oli mesin.
Pemilik bengkel RR Auto di Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang, Abas mengatakan, kenaikan harga spare part mulai terasa sejak konflik geopolitik di Timur Tengah memanas.
“Ini sebenarnya sudah dari pas penyerangan Iran itu. Habis Idul Fitri mulai kerasa kenaikannya,” ujar Abas, Kamis (22/5/2026).
1. Spare part naik sekitar 10 persen
Menurut Abas, kenaikan harga spare part kendaraan terjadi secara bertahap dengan rata-rata sekitar 10 persen.
“Tergantung sih, ada yang 10 persen. Kalau spare part rata-rata naiknya di 10 persen, landai,” katanya.
Namun, kenaikan paling signifikan justru terjadi pada harga oli mesin dalam beberapa hari terakhir.
2. Harga oli melonjak hingga lebih dari 20 persen

Abas menjelaskan, harga oli yang biasa dibeli sekitar Rp90 ribu kini naik menjadi Rp110 ribu per unit.
“Kalau oli memang baru signifikan sekarang, baru tiga-empat hari terakhir. Dari biasa belanja Rp90 ribu naik jadi Rp110 ribu/liter,” ujarnya.
Kenaikan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 20 persen.
3. Bengkel kesulitan jelaskan kenaikan harga ke pelanggan
Menurut Abas, kondisi tersebut cukup berdampak terhadap usaha bengkel karena pelanggan tetap menginginkan biaya servis yang murah. Ia mengaku kerap mendapat keluhan dari pelanggan yang menganggap harga jasa bengkel menjadi lebih mahal.
“Dampaknya kita agak sulit juga. Customer kan maunya murah. Kadang mereka enggak tahu kalau barang-barang memang naik,” katanya. “Nah malah dampaknya ke bengkel kita terkesan mahal, padahal memang barang-barang sudah naik,” sambung Abas.


















