Muncul Pungli Sampah di Ciputat Saat Tangsel Masih Darurat Sampah

- Pungli sampah di Ciputat terjadi saat Tangsel masih darurat sampah
- Pedagang dan warga membayar Rp3 ribu - Rp10 ribu untuk membuang sampah kepada orang tak dikenal
- Tumpukan sampah bukan hanya dari pedagang pasar, tapi juga dari orang lewat dan warga lain di sekitar lokasi
Tangerang Selatan, IDN Times – Status tanggap darurat sampah masih diberlakukan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Terbaru muncul praktik buang sampah berbayar di Jalan Otista Raya, Ciputat.
Warga dan pedagang mengaku harus membayar Rp3.000 hingga Rp10.000 setiap kali membuang sampah kepada orang tak dikenal (OTK), sementara tumpukan sampah di lokasi tersebut semakin menggunung dan meluber ke badan jalan.
Seorang warga sekaligus pedagang, Budiman (bukan nama sebenarnya) mengatakan, tarif buang sampah di lokasi itu tidak seragam. Selain pungutan per sekali buang, pedagang kios juga disebut dikenakan iuran harian.
“(Mereka itu bayar ya sekali buang?) Iya bayar tapi kurang tau ya berapa soalnya ada Rp5 ribu (ada yang bayar) Rp10 ribu,” kata Budiman, Kamis (8/1/2026).
1. Pungutan uang untuk buang sampah itu tidak disertai dengan tanggung jawab

Budiman mempertanyakan pengelolaan uang pungutan tersebut. Menurutnya, setelah pembayaran dilakukan, tidak ada tanggung jawab nyata dari pihak yang memungut.
“Iya kita juga bayar, setiap hari ditarikin duit Rp8 ribu. Tapi abis itu duitnya gak tahu ke mana, paling ke atasan mereka,” ujarnya.
Ia juga meragukan klaim bahwa pungutan itu untuk kebersihan lingkungan. Sebab, kondisi di lapangan justru memburuk.
“Ya bilangnya buat kebersihan tapi liat saja sampah jadi makin menumpuk. Itu mah sampah buat isi perut mereka. Mana buktinya, gak ada kebersihannya,” katanya.
2. Tumpukan sampah bukan berasal dari pedagang pasar tapi juga dari orang lewat
Keluhan senada disampaikan Doni Putra (31), pedagang kelapa parut di sekitar lokasi. Ia menyebut banyak orang dari luar kawasan pasar yang membuang sampah di titik tersebut dengan membayar sejumlah uang kepada orang yang berjaga.
“Iya dari sini, pasar tapi ada juga dari orang luar. Kaya dia datang terus bayar ke yang nungguinnya, sekitar Rp3 ribu bayarnya,” kata Doni.
Menurut Doni, sebagian orang membuang sampah sambil melintas atau berangkat bekerja, sehingga volume sampah di lokasi tersebut terus bertambah.
“Jadi banyak juga orang yang kerja sembari bawa sampahnya terus buang ke sini. Terus bayar Rp3 ribu atau seikhlasnya lah,” ujarnya.
Ia menegaskan penumpukan sampah bukan hanya berasal dari pedagang pasar. “Bukan karena pedagang aja. Warga lain juga buang di sini, makanya cepat penuh,” katanya.
Ia mengaku para pedagang kebingungan mencari tempat pembuangan sampah karena kondisi di sekitar pasar sudah penuh.
“Kita jujur sebagai pedagang itu bingung juga mau buang gimana, semuanya serba penuh,” kata Doni.
Ia menegaskan penumpukan sampah bukan hanya berasal dari pedagang pasar.
“Masalahnya itu penuhnya bukan karena kita aja tapi warga yang lain. Sembari kerja mereka bawa,” ucapnya.


















