Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sekolah Rakyat Prabowo Dinilai Berpotensi Melanggengkan Diskriminasi

Sekolah Rakyat Prabowo Dinilai Berpotensi Melanggengkan Diskriminasi
www.instagram.com/@prabowo
Intinya Sih

  • Layanan pendidikan harus inklusif, bukan diskriminatif

  • Program Sekolah Rakyat berpotensi membentuk stigmatisasi negatif

  • Stigmatisasi akan berpengaruh pada kepercayaan diri dan prestasi akademis siswa

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tangerang, IDN Times – Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto menuai sorotan dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji menilai, keberadaan sekolah rakyat ini justru dapat memperlebar jurang ketimpangan dalam layanan pendidikan nasional.

“Menurut saya, kehadiran sekolah rakyat ini akan melanggengkan ketimpangan kelas atau kasta. Ini melahirkan diskriminasi dalam layanan pendidikan,” kata Ubaid dalam keterangannya, Minggu (13/7/2025).

1. Layanan pendidikan harusnya bersifat inklusif

Ilustrasi pendidikan ( ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)
Ilustrasi pendidikan ( ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Ia menekankan, layanan pendidikan seharusnya bersifat inklusif, bukan malah diskriminatif. “Dengan memisahkan siswa berdasarkan latar belakang sosial-ekonomi, diskriminasi dalam layanan pendidikan dapat terjadi. Anak-anak dari keluarga miskin mungkin tidak mendapatkan layanan pendidikan yang setara dengan anak-anak dari keluarga kaya,” ujarnya.

Ubaid juga mengkhawatirkan munculnya perbedaan kualitas pendidikan yang diterima oleh anak-anak dari kelompok ekonomi berbeda, yang pada akhirnya akan mempengaruhi peluang masa depan mereka.

“Ini akan mengakibatkan perbedaan dalam kualitas pendidikan yang diterima dan peluang masa depan yang berbeda bagi masing-masing kelompok,” ujarnya.

Menurut Ubaid, sistem pendidikan yang saat ini berjalan saja masih memiliki banyak ketimpangan, baik pada model sekolah maupun madrasah, termasuk layanan untuk peserta didik dan guru-gurunya.

“Dengan sistem yang saat ini berjalan, ada model sekolah dan model madrasah, ini saja banyak layanan pendidikan yang dibeda-bedakan, baik untuk peserta didiknya maupun guru-gurunya. Apalagi ada model sekolah baru lagi, pasti menambah daftar masalah diskriminasi dalam pelayanan pendidikan,” katanya.

2. Program ini berpotensi membentuk stigmatisasi

Ilustrasi pendidikan. IDN Times/Sukma Shakti
Ilustrasi pendidikan. IDN Times/Sukma Shakti

Tak hanya soal diskriminasi layanan, Ubaid juga menilai program sekolah rakyat berpotensi memunculkan labelisasi dan stigmatisasi negatif terhadap siswa yang belajar di sana.

“Penamaan ‘sekolah rakyat untuk anak miskin’ ini tentu dapat menciptakan labelisasi dan stigmatisasi negatif terhadap siswa yang belajar di sana. Mereka pasti dianggap sebagai siswa kelas dua atau tidak sebaik siswa di sekolah unggulan,” jelasnya.

3. Stigmatisasi akan berpengaruh ke siswa

ilustrasi Pendidikan (IDN Times/Sukma Shakti)
ilustrasi Pendidikan (IDN Times/Sukma Shakti)

Stigmatisasi ini, menurutnya akan memengaruhi kepercayaan diri dan prestasi akademis siswa, serta memperburuk pandangan teman sebaya maupun masyarakat terhadap mereka.

“Stigmatisasi ini akan memperkuat stereotip dan bias yang merugikan, dan semakin memarjinalkan kelompok anak miskin yang sudah rentan, serta memperpetuasi siklus diskriminasi,” kata Ubaid.

Share
Topics
Editorial Team
Irma Yudistirani
EditorIrma Yudistirani
Follow Us

Latest News Banten

See More