Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tempati Posisi 4 Terbanyak, Pengangguran di Banten 412.710 orang
Ilustrasi pengangguran. Dok. Istimewa/IDN Times
  • Angka pengangguran di Provinsi Banten mencapai 412.710 orang, menempati posisi keempat jumlah terbanyak di Indonesia.
  • Pengangguran di Banten mengalami penurunan
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times  - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran terbuka (TPT) di Provinsi Banten mencapai 412.710 orang. Angka tersebut membuat provinsi yang memiliki julukan tanah Jawara ini menempati posisi keempat jumlah terbanyak pengangguran di Indonesia.

Kendati demikian, Ketua Tim Statistik Sosial BPS Provinsi Banten, Adam Sofian mengatakan, angka pengangguran di Banten menurun signifikan. "Pengangguran di Banten mengalami penurunan 11.980 orang dibanding Februari 2024," kata Adam melalui siaran pers, Selasa malam (5/5/2025).

1. Dari 100 orang angkatan kerja, 7 warga Banten menganggur

ilustrasi pengangguran (pexels.com/Ron Lach)

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Februari 2025, kata Adam, angka angkatan kerja di Banten sebanyak 6,21 juta orang. Dari angka itu, penduduk Banten yang bekerja pada Februari 2025 sebanyak 5,80 juta orang.

"Dengan angka tersebut  dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar 7 orang penganggur," katanya.

2. Angka laki-laki menganggur di Banten lebih tinggi dari perempuan

ilustrasi orang miskin (pexels.com/hitesh choudhary)

Sementara, berdasarkan jenis kelamin, angka pengangguran laki-laki sebesar 6,65 persen, lebih tinggi dibanding angka pengangguran perempuan yang sebesar 6,63 persen.

"Sedangkan Apabila dilihat menurut daerah tempat tinggal, TPT perkotaan 6,65 persen lebih tinggi dibandingkan TPT di daerah perdesaan 6,62 persen," katanya.

3. Tamatan SMP paling banyak menganggur dibanding tingkatan lain

Ilustrasi murid SMP di Balikpapan. (Dok. Disdikbud Balikpapan)

Sedangkan, apabila dilihat berdasarkan pendidikan tertinggi, lanjut Adam, tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan yang paling tinggi  dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 9,35 persen. Artinya, kata Adam, dari 100 orang angkatan kerja tamatan SMP, terdapat sekitar 9 orang pengangguran.

Sementara TPT yang paling rendah adalah pada pendidikan Diploma I/II/III, yaitu
sebesar 2,03 persen. "Mereka (lulusan SMP) harus bersaing dengan calon pekerja yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, persaingan lebih ketat," katanya.

Editorial Team

Related Article