103 WBP Rutan Serang Buka Bersama Keluarga, Obati Rindu di Balik Jeruji

- Sebanyak 103 warga binaan Rutan Serang mendapat kesempatan langka berbuka puasa bersama keluarga, menciptakan suasana hangat dan penuh haru di balik jeruji besi.
- Momen buka bersama menjadi pelepas rindu sekaligus penguat mental bagi para WBP, yang menikmati masakan rumah dan kebersamaan setelah berbulan-bulan terpisah.
- Pihak pemasyarakatan menilai kegiatan ini sebagai bentuk pendekatan humanis penting dalam pembinaan, memperkuat dukungan keluarga serta nilai spiritual selama Ramadan.
Serang, IDN Times – Suasana berbeda terasa di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Serang, Senin (23/2/2026). Jika biasanya ruang kunjungan hanya diisi percakapan singkat dalam waktu terbatas, kali ini ratusan keluarga duduk berhadap-hadapan lebih lama dengan orang tercinta yang tengah menjalani masa hukuman.
Sebanyak 103 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) mendapatkan kesempatan langka berbuka puasa bersama anak, istri, dan orang tua mereka di dalam rutan. Momentum Ramadan itu seakan menjadi ruang pelepas rindu di balik jeruji besi.
Acara dimulai dengan penampilan hiburan sederhana dari para WBP. Beberapa di antaranya membawakan lagu religi dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Suasana hangat perlahan mencairkan sekat formal antara petugas, warga binaan, dan keluarga yang hadir.
1. Mereka bisa menikmati menu rumah yang dibawa keluarga

Menjelang azan magrib, para keluarga mengeluarkan makanan yang telah dipersiapkan dari rumah menu yang sebelumnya diminta langsung oleh para WBP. Ada ayam masak rumahan, telur puyuh balado, tumis kangkung, hingga aneka lauk sederhana yang mungkin biasa saja di luar, namun terasa istimewa di dalam rutan.
Meski keluarga membawa makanan masing-masing, pihak rutan tetap menyediakan takjil seperti kurma, gorengan, es campur, dan soto untuk memastikan seluruh peserta dapat berbuka dengan layak.
Salah seorang WBP, Frederik Marcelino, tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Setelah delapan bulan menjalani masa penahanan, ia akhirnya bisa berbuka puasa bersama anak dan istrinya.
“Alhamdulillah senang sekali, nikmat diberi kesempatan ini. Bahagia bisa berkumpul sama keluarga tersayang,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
2. Menjadi momen obat rindu yang selama ini dipendam

Frederik mengaku momen tersebut menjadi obat rindu yang selama ini dipendam. Terlebih lagi, sang istri membawakan masakan favoritnya yang sudah lama tak ia rasakan.
“Ini masakan favorit saya, ayam sama telur puyuh dan kangkung. Sudah lama enggak makan masakan rumah,” katanya.
Menurutnya, momen seperti ini bukan sekadar makan bersama, tetapi menjadi penguat mental selama menjalani masa pembinaan. Ia berharap kegiatan serupa dapat rutin digelar setiap Ramadan.
“Kayaknya baru kali ini ada seperti ini. Semoga tiap tahun ada lagi, supaya yang lain juga bisa merasakan,” ucapnya.
3. Pendekatan humanis dinilai penting dalam proses pembinaan

Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Banten, M Ali Syeh Banna, mengapresiasi inisiatif jajaran rutan. Ia menilai, pendekatan humanis seperti ini penting dalam proses pembinaan.
“Ini program sangat luar biasa. Saya sangat senang dan sangat mendukung. Kalau begini, keluarga merasa memiliki, dan mereka tidak merasa ditinggalkan. Ada ikatan emosional yang tetap terjaga,” katanya.
Menurut Ali, dukungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk kesadaran dan perubahan perilaku warga binaan. Ramadan, lanjutnya, menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan.
Di tempat yang sama, Kepala Rutan Serang, Rangga Permata, menjelaskan kegiatan buka puasa bersama ini memang belum bisa diikuti seluruh WBP karena keterbatasan kapasitas ruangan.
“Saat ini ada 103 WBP yang melaksanakan buka puasa bersama keluarga. Nanti kita rencanakan dua kali selama bulan Ramadan ini, bergiliran agar semua mendapat kesempatan,” jelasnya.
Rangga menegaskan, kegiatan tetap dilaksanakan dengan pengawasan ketat serta mengikuti prosedur keamanan yang berlaku. Namun demikian, pihaknya berupaya menciptakan suasana senyaman mungkin agar para WBP dapat menikmati kebersamaan dengan keluarga tanpa mengabaikan aturan.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga bagian dari pembinaan yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, senja itu menghadirkan suasana yang berbeda—penuh pelukan, senyum, dan harapan baru bagi mereka yang tengah menata ulang masa depan.
“Ramadan adalah bulan penuh keberkahan. Kami ingin para WBP tetap merasakan kehangatan keluarga, supaya semangat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik semakin kuat,” tutupnya.
















