Bayi Meninggal Diduga Kehabisan Benang Operasi, RSUD Lebak Disorot DPRD

- Anggota DPRD Lebak menyoroti dugaan kelalaian RSUD dr Adjidarmo setelah seorang ibu gagal operasi caesar karena benang jahit kosong, menyebabkan bayinya meninggal saat dirujuk ke RSUD Banten.
- Pihak RSUD menjelaskan pasien datang 18 April 2026, telah diperiksa dan diberi edukasi soal keterbatasan alat, serta ditawari perawatan awal sebelum akhirnya memilih pergi ke rumah sakit lain.
- RSUD menyatakan kondisi pasien belum darurat karena belum ada kontraksi atau tanda kegawatdaruratan, sementara DPRD meminta evaluasi layanan dan ketersediaan alat medis di rumah sakit daerah.
Lebak, IDN Times – Anggota DPRD Kabupaten Lebak, Regen Abdul Aris, mengungkap dugaan persoalan layanan di RSUD dr Adjidarmo Rangkasbitung, Kamis (23/4/2026). Ia menyebut, seorang warga di daerah pemilihannya tidak bisa menjalani operasi caesar karena ketiadaan benang jahit di rumah sakit tersebut.
Regen mengatakan, pasien yang hendak melahirkan secara caesar sudah datang ke rumah sakit, namun tidak bisa ditangani. “Ada yang mau melahirkan caesar, tapi benang jahit tidak ada,” ujarnya.
1. Bayi meninggal saat perjalanan rujukan

Karena tidak ditangani di RSUD Adjidarmo, pasien dirujuk ke RSUD Banten. Namun, bayi dalam kandungan dilaporkan meninggal dunia, diduga saat perjalanan.
“Ini soal nyawa. Seharusnya ditangani dulu, jangan langsung dirujuk,” kata politisi PPP itu.
2. RSUD beri penjelasan kronologi

Pelaksana Tugas Direktur RSUD Adjidarmo, Eka Dharmana Putra, membenarkan pasien datang pada 18 April 2026 dengan keluhan mulas. Menurutnya, tenaga medis telah melakukan pemeriksaan awal dan memberikan edukasi terkait kondisi ketersediaan alat.
Eka menjelaskan, pihak rumah sakit tetap menawarkan perawatan awal sebelum rujukan. Namun, pasien disebut memilih untuk tidak dirawat dan memutuskan pergi ke rumah sakit lain.
3. Klaim tidak dalam kondisi darurat

Ia juga menyebut, berdasarkan pemeriksaan sebelumnya, kondisi pasien tidak dalam keadaan darurat. “Belum ada kontraksi, belum pecah ketuban, dan tidak ada tanda kegawatdaruratan,” katanya.
Kasus ini menjadi sorotan DPRD Lebak sebagai evaluasi layanan kesehatan, khususnya terkait ketersediaan alat medis di rumah sakit daerah.
















