Gawat, Klaster Pendidikan COVID-19 Muncul di Tangsel!
.jpg)
Tangerang Selatan, IDN Times - Pemerintah memberikan masyarakat kelonggaran untuk beraktivitas di saat adaptasi kebiasaan baru terhadap pandemik COVID-19. Kendati begitu, pemerintah di daerah tetap diminta mematuhi protokol kesehatan menggunakan masker, jaga jarak, serta rajin mencuci tangan.
Protokol kesehatan menjadi keharusan, agar masyarakat terhindar dari penularan COVID-19. Selain mencegah munculnya klaster penyebaran COVID-19 baru selain perkantoran, keluarga, dan pasar.
1. Dunia pendidikan Tangsel jadi klaster baru

Seperti di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), penyebaran COVID-19 kini sudah merambah ke lingkup pendidikan atau ke sekolah hingga menjadi klaster. Rumah Lawan COVID-19 yang didirikan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel, kini telah menerima belasan guru yang reaktif terhadap COVID-19. Setidaknya demikian dikatakan Koordinator Rumah Lawan COVID-19, Suhara Manullang.
"Sekarang sudah dimulai klaster ada di Tangsel. Itu klaster pendidikan, bukan murid tapi ke guru dan dosen. Lebih dari 10 orang," kata Suhara saat dikonfirmasi, Minggu (23/8/2020).
2. Guru tetap pergi ke sekolah meski belajar secara daring

Meski metode pembelajaran masih menggunakan sistem daring atau jarak jauh, tetapi para guru tetap berada di sekolah dan melakukan interaksi dengan guru-guru lain.
"Ya berarti kan berinteraksi itu, idealnya protokol kesehatan kelalaian dan kekhilafan itu akan selalu ada di manusia. Konsekuensi tadi, kita siap tertular siapapun. Rumah Lawan COVID-19 sudah mewakili semua loh, pemuka agama ada, pemerintahan ada, pejabat ada, TNI ada. Sekarang ini jadi perhatian sekolah-sekolah," paparnya.
3. Kemunculan klaster pendidikan Tangsel akibat pelonggaran

Suhara menjelaskan, ada beberapa faktor klaster di lingkup pendidikan Tangsel yang mengakibatkannya terjadi. Faktor pertama adalah pelonggaran yang memunculkan pergerakan hingga interaksi antar manusia.
"Kedua adalah episentrum Tangsel dengan Jakarta kan dekat, banyak juga yang kerja di Jakarta. Kemudian secara ekonomi juga ke Jakarta, kan gitu. Banyaklah bisnis di Jakarta. Pada saat terjadi, klaster yang ada itu ya karena demikian. Dimulai dari klaster perusahaan, sekarang sudah klaster pendidikan di Tangsel," terangnya.
Dengan adanya klaster penyebaran COVID-19, Suhara berharap agar masyarakat tidak menganggap COVID-19 sebagai hasil rekayasa atau konspirasi.
"PSBB itu satu perangkat yang bisa dicabut kapan saja, bisa diteruskan dengan pelonggaran-pelonggaran. Bahkan sekarang lebih kepada pakai masker saja harus PSBB, nah ini harus seimbang. Jangan sampai masyarakat akhirnya menganggap COVID-19 ini konspirasi, rekayasa, halusinasi, padahal ada di depan kita," kata Suhara.



















