Suhara menjelaskan, ada beberapa faktor klaster di lingkup pendidikan Tangsel yang mengakibatkannya terjadi. Faktor pertama adalah pelonggaran yang memunculkan pergerakan hingga interaksi antar manusia.
"Kedua adalah episentrum Tangsel dengan Jakarta kan dekat, banyak juga yang kerja di Jakarta. Kemudian secara ekonomi juga ke Jakarta, kan gitu. Banyaklah bisnis di Jakarta. Pada saat terjadi, klaster yang ada itu ya karena demikian. Dimulai dari klaster perusahaan, sekarang sudah klaster pendidikan di Tangsel," terangnya.
Dengan adanya klaster penyebaran COVID-19, Suhara berharap agar masyarakat tidak menganggap COVID-19 sebagai hasil rekayasa atau konspirasi.
"PSBB itu satu perangkat yang bisa dicabut kapan saja, bisa diteruskan dengan pelonggaran-pelonggaran. Bahkan sekarang lebih kepada pakai masker saja harus PSBB, nah ini harus seimbang. Jangan sampai masyarakat akhirnya menganggap COVID-19 ini konspirasi, rekayasa, halusinasi, padahal ada di depan kita," kata Suhara.