Ibu Hamil di Pandeglang Ditandu 5 Km ke Faskes untuk Lahiran

Pandeglang, IDN Times - Seorang ibu hamil bernama Anisah, 37 tahun, warga Kampung Cigebang Hilir, Desa Tanjungan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang harus digotong menggunakan sarung yang dikaitkan dengan bambu menuju ke fasilitas kesehatan (faskes) untuk menjalani proses persalinan.
Anisah harus digotong seperti itu, lantaran akses jalan dari rumah pasien ke tempat persalinan rusak parah, tak bisa dilalui kendaraan. Sehingga warga harus menggotong Anisah dengan jarak lebih dari lima kilometer.
"Kejadiannya kemarin, Kamis 2 Januari 2025. Saudara saya itu hendak melahirkan ke tempat persalinan di rumah bidan desa. Namun karena jalannya rusak, maka tidak bisa dibawa dengan menggunakan kendaraan roda empat, sehingga harus ditandu pakai kain sarung oleh warga," kata Cicih, seorang anggota keluarga Anisah yang dikutip, Minggu (5/1/2025).
1. Warga yang akan ke faskes selalu digotong sedemikian rupa

Cicih mengatakan, setiap pasien yang sakit maupun melahirkan di kampungnya itu harus digotong dengan cara seperti itu, ketika hendak dibawa ke fasilitas kesehatan.
"Kondisi jalan berlumpur dan licin, kendaraan mobil sama sekali tidak bisa melintas di jalan ini. Sehingga kalau ada yang mau berobat atau melahirkan ke puskesmas atau faskes yang lain harus ditandu," katanya.
2. Jalan rusak ini tak pernah dibangun

Sepengetahuan dirinya, jalan rusak ini sudah lama belum pernah dibangun. Cicih bahkan menyebut, mungkin saja sebelum dirinya lahir pun kondisi jalan belum pernah dibangun.
"Kalau hujan jalan ini becek dan licin karena bercampur lumpur. Mungkin kondisi.jalan rusak sudah puluhan tahun, karena sejak saya kecil sampai sekarang, kondisi jalan dalam kondisi rusak parah," ujarnya.
3. Pemkab Pandeglang diharapkan membangun jalan ini

Ia berharap Pemkab Pandeglang bisa memberikan perhatian terhadap kesulitan warga atas kondisi jalan rusak ini. Soalnya, jika ada orang sakit atau ibu hamil yang hendak melahirkan di puskesmas atau bidan desa, harus ditandu menggunakan kain sarung.
"Indonesia sudah merdeka, tapi kami di sini belum merasakan kemerdekaan. Jadi tolong kepada pemerintah bisa melihat kondisi kesulitan warga di Desa Tanjungan, karena akibat jalan rusak ini sangat menyulitkan bagi kami," kata dia.
Sementara pasien ibu hamil, Anisah, mengaku dirinya hendak melahirkan anaknya yang kedua. Namun karena kondisi jalan rusak, ia harus digotong sedemikian rupa.
"Alhamdulillah anak kedua saya sudah lahir dengan selamat. Namun sebelum ke bidan desa, saya ditandu oleh warga karena kondisi jalan rusak tidak bisa dilalui kendaraan," tuturnya.
Sepanjang ditandu menuju ke tempat persalinan, ia merasakan kondisi yang tidak keruan.
"Ya perasaan saat ditandu campur aduk, mana menahan sakit, mules, dan takut melahirkan di tengah jalan. Pasti repot. Soalnya kan menuju tempat persalinan lumayan jauh, saya juga ditandu oleh warga hampir satu jam lamanya di perjalanan," ungkapnya.



















