Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kemiskinan Banten Turun, tapi Warga Miskin Desa Justru Bertambah

ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)
ilustrasi kemiskinan (pexels.com/Guduru Ajay bhargav)
Intinya sih...
  • BPS Banten mencatat kemiskinan turun menjadi 5,51 persen pada September 2025, dengan jumlah penduduk miskin berkurang menjadi 760,85 ribu orang.
  • Penurunan terjadi di perkotaan, sementara kemiskinan perdesaan justru naik menjadi 6,27 persen atau bertambah sekitar 0,9 ribu orang.
  • Garis kemiskinan naik jadi Rp715.288 per kapita per bulan, didominasi kebutuhan makanan, meski tren kemiskinan membaik sejak 2023 seiring turunnya pengangguran.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat persentase penduduk miskin pada September 2025 turun menjadi 5,51 persen. Namun di balik penurunan total itu, jumlah dan persentase kemiskinan di wilayah perdesaan justru mengalami kenaikan.

Kepala BPS Provinsi Banten, Yusniar Juliana, menyampaikan jumlah penduduk miskin di Banten pada September 2025 mencapai 760,85 ribu orang. Angka tersebut turun 11,9 ribu orang dibanding Maret 2025 dan berkurang 16,64 ribu orang dibanding September 2024.

“Persentase penduduk miskin September 2025 sebesar 5,51 persen, turun 0,12 persen poin dibanding Maret 2025 dan turun 0,19 persen poin dibanding September 2024,” kata Yusniar, Kamis (5/2/2026).

1. Kemiskinan kota turun, perdesaan malah naik

Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)
Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, penurunan kemiskinan terjadi di daerah perkotaan. Persentase penduduk miskin perkotaan turun dari 5,58 persen pada Maret 2025 menjadi 5,35 persen pada September 2025. Jumlahnya juga berkurang 12,9 ribu orang, dari 627,88 ribu menjadi 615,02 ribu orang.

Sebaliknya, kondisi di perdesaan menunjukkan tren berbeda. Persentase kemiskinan desa naik dari 5,89 persen menjadi 6,27 persen. Jumlah penduduk miskin perdesaan bertambah sekitar 0,9 ribu orang, dari 144,90 ribu menjadi 145,84 ribu orang.

"Data ini menunjukkan penurunan angka kemiskinan Banten lebih banyak ditopang perbaikan di wilayah perkotaan," katanya.

2. Garis kemiskinan ikut naik per kapita, makanan paling berpengaruh

Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)
Ilustrasi kemiskinan (Foto: IDN Times)

BPS juga mencatat Garis Kemiskinan (GK) Banten pada September 2025 sebesar Rp715.288 per kapita per bulan, naik 4,54 persen dibanding Maret 2025 dan naik 7,17 persen dibanding September 2024.

Komposisinya terdiri dari garis kemiskinan makanan sebesar Rp524.678 atau 73,35 persen dan nonmakanan Rp190.610 atau 26,65 persen. Rata-rata rumah tangga miskin memiliki 5,17 anggota, sehingga garis kemiskinan per rumah tangga mencapai sekitar Rp3,69 juta per bulan.

"Komoditas makanan masih menjadi penyumbang terbesar pembentuk garis kemiskinan, terutama beras dan rokok kretek filter, disusul daging ayam ras, telur ayam, kopi, mi instan, dan roti," katanya.

3. Tren angka pengangguran Banten membaik sejak 2023

Ilustrasi kemiskinan (Pexels.com/hitesh choudhary)
Ilustrasi kemiskinan (Pexels.com/hitesh choudhary)

Secara historis, tingkat kemiskinan Banten sempat naik pada periode kenaikan harga BBM dan saat pandemi COVID-19. Namun sejak Maret 2023 hingga September 2025, jumlah dan persentase penduduk miskin berangsur menurun.

"Sejalan dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan dan turunnya tingkat pengangguran terbuka," katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Banten

See More

Pajak Tambang MBLB Banten Rawan Bocor, KPK Minta Pemda Benahi Tata Kelola

05 Feb 2026, 18:31 WIBNews