Kenali Nyeri Dada Dirobek, Jadi Salah Satu Tanda Pembuluh Aorta Robek

- Diseksi aorta adalah kondisi robekan pada pembuluh darah utama dari jantung yang bisa menyebabkan kematian cepat jika tidak segera ditangani, dengan gejala nyeri dada hebat seperti disayat.
- Hipertensi tidak terkontrol menjadi faktor risiko utama diseksi aorta, disusul faktor genetik, trauma, infeksi, dan usia lanjut; pemeriksaan rutin sangat dianjurkan bagi usia di atas 40 tahun.
- Teknologi Frozen Elephant Trunk (FET) memungkinkan perbaikan aorta torakal dan abdominal dalam satu operasi, mempercepat pemulihan pasien serta menurunkan risiko pendarahan dan komplikasi pascaoperasi.
Tangerang, IDN Times - Organ jantung merupakan salah satu organ yang sangat penting bagi manusia, berbagai organ lain di sekitarnya yang ikut berperan dalam memompa darah dan disebarkan ke seluruh tubuh, salah satunya organ aorta. Kerja jantung tak bisa maksimal jika terdapat permasalahan pada aorta, bahkan bisa fatal seperti menyebabkan kematian.
Dicky Aligheri Wartono, Spesialis Bedah Toraks, Kardio Vaskular Siloam Lippo Village mengungkapkan, aorta merupakan pembuluh darah utama yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh. Gangguan pada aorta seperti aneurisma aorta maupun diseksi (robek) dapat berkembang tanpa gejala yang jelas hingga menimbulkan kondisi yang mengancam jiwa.
"Penyakit aorta kompleks, khususnya diseksi (robekan) dan aneurisma (pelebaran) aorta, merupakan salah satu kondisi kegawatdaruratan medis paling fatal di dunia kardiovaskular," katanya.
1. Kenali gejalanya, jangan sampai parah

Dicky mengungkapkan, gejala robeknya aorta menyerupai keluhan penyakit ringan sehingga membuat banyak orang terlambat mendapatkan penanganan, hingga berujung kematian dalam hitungan jam. Dicky mengungkapkan, tantangan terbesar dalam menyelamatkan pasien aorta adalah sempitnya waktu (golden period) dan minimnya pemahaman gejala awal.
"Jadi, kalau ada gejala khas gangguan pada kardiovaskular, seperti nyeri dada seperti dada dirobek, atau sampai sesak, segera ke UGD. Nanti ketahuan jika aortanya bermasalah, dari CT scan kontras ataupun bisa juga dari hasil poto toraks,"katanya.
Dicky menjelaskan, aorta adalah pembuluh darah terbesar yang keluar langsung dari jantung untuk mengalirkan darah ke seluruh organ tubuh, mulai dari otak hingga kaki. Ketika lapisan dinding pembuluh darah aorta robek, darah akan masuk ke sela-sela lapisan dan dapat menyumbat aliran darah ke organ vital.
"Sehingga muncul sensasi sesak, tidur sudah tidak bisa telentang, jalan kaki sebentar juga sesak, hingga ada pula penyebab strok bila sumbatannya ke atas atau otak," jelasnya.
Dicky menjelaskan gejala utama dari diseksi aorta akut adalah rasa nyeri yang sangat hebat dan muncul secara mendadak. Di mana, nyerinya sangat khas, digambarkan seperti dada yang disayat, dirobek, atau ditusuk silet.
"Kalau pasien yang sudah pernah serangan jantung, dia akan bilang ini rasa yang beda, rasa nyeri ini sering kali menjalar ke punggung, bahkan bisa berpindah dari punggung atas ke bawah mengikuti arah robekan pembuluh darah," jelasnya.
Ironisnya, karena rasa nyeri yang menjalar ke punggung atau perut, banyak pasien atau keluarga yang salah mengira kondisi mematikan ini sebagai gejala masuk angin biasa, penyakit maag, atau serangan jantung koroner.
"Keterlambatan diagnosis ini sangat berbahaya karena pada fase akut diseksi aorta, risiko kematian meningkat 1 persen hingga dua persen setiap jamnya dalam waktu 24 hingga 48 jam pertama jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat," jelasnya.
Maka sangat penting ke IGD untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan disarankan ke rumah sakit memadai, bilamana dibutuhkan segera untuk operasi.
2. Kenali faktor resikonya

Dicky mengungkapkan, berdasarkan data medis, penyakit aorta kompleks ini paling sering mengintai kelompok masyarakat dengan riwayat kesehatan tertentu. Faktor risiko utamanya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
"Tekanan darah yang kronis dan tinggi terus-menerus memberikan beban hantaman yang sangat kuat pada dinding pembuluh darah aorta. Seiring berjalannya waktu, dinding tersebut bisa melemah, melebar seperti balon (aneurisma), atau langsung robek," jelasnya.
Selain hipertensi, faktor genetik atau kelainan jaringan ikat bawaan juga menjadi pemicu lainnya. Juga ada faktor trauma, seperti pernah kecelakaan terjadi benturan, dan adanya infeksi. Misalnya tumor di sekitar aorta, hingga faktor usia yang menua.
"Sebenarnya faktor seperti tekanan darah tinggi dan diabetes bisa dikontrol dengan pola hidup sehat. Sisanya seperti genetik, trauma dan usia, sulit ya. Jadi, kami sarankan di atas usia 40 tahun harus rajin MCU setahun sekali, "katanya.
3. Teknologi Frozen Elephant Trunk (FET) sebagai salah satu solusi

Ada beberapa penanganan diseksi aorta, bergantung pada tingkat keparahan dari robekan. Yakni ada yang kegawatdaruratan harus langsung dioperasi, minum obat terlebih dahulu sembari mempersiapkan diri pasien untuk dilakukan operasi.
"Menangani penyakit aorta kompleks yang melibatkan area dada (torakal) hingga perut (abdominal) membutuhkan keahlian bedah tingkat tinggi dan dukungan teknologi mutakhir," tuturnya.
Dulu, operasi pembedahan aorta kompleks harus dilakukan secara bertahap (multi-tahap) yang membutuhkan waktu pemulihan lama dan risiko tinggi bagi pasien. Namun, di era modern ini, Siloam Hospitals Lippo Village telah menerapkan teknik Frozen Elephant Trunk (FET), yang menjadi standar emas (gold standard) baru di dunia.
Teknik FET adalah metode bedah hibrida (hybrid) yang menggabungkan operasi bedah terbuka konvensional dengan pemasangan komponen stent graft (endovaskular), berbentuk menyerupai belalai gajah yang "dibekukan" di dalam pembuluh darah. Dengan metode ini, bagian aorta yang rusak di area dada dan perut dapat diperbaiki sekaligus dalam satu kali tindakan operasi.
"Hal ini secara signifikan memangkas waktu operasi, meminimalkan pendarahan, dan mempercepat masa pemulihan pasien di ruang ICU," jelas Dicky.

















