Pergerakan Tanah Rusak 54 Rumah di Kabupaten Serang

- 43 unit bangunan rusak berat, 97 rumah berisiko terdampak
- Pemkab Serang tetapkan status tanggap darurat akibat bencana hidrometeorologi
- Warga di tanah miring diimbau waspada terhadap potensi cuaca ekstrem
Serang, IDN Times – Pergerakan tanah akibat cuaca ekstrem merusak puluhan rumah warga di Kabupaten Serang, Banten. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang mencatat, sedikitnya 54 rumah rusak, sementara puluhan rumah lainnya berada dalam kondisi terancam.
Kepala BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat mengatakan, pergerakan tanah terjadi di lima kecamatan dan dipicu hujan lebat dengan intensitas tinggi yang berlangsung sejak awal Januari 2026.
“Pergerakan tanah teridentifikasi di Kecamatan Mancak, Cikeusal, Cinangka, Padarincang, dan Waringin Kurung. Total ada 54 rumah yang terdampak langsung,” kata Ajat saat dikonfirmasi, Selasa (20/1/2026).
1. Ada 43 unit bangunan yang rusak berat

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Serang, tingkat kerusakan bangunan tergolong signifikan. Dari total rumah terdampak, sebanyak 43 unit mengalami rusak berat, lima unit rusak sedang, dan enam unit rusak ringan.
Selain kerusakan yang telah terjadi, BPBD juga mencatat potensi perluasan dampak bencana. Sebanyak 97 rumah lainnya masuk dalam kategori berisiko terdampak apabila pergerakan tanah terus berlanjut.
“Selain hunian warga, terdapat dua fasilitas umum yang juga terdampak akibat pergerakan tanah ini,” kata Ajat.
2. Pemkab Serang juga telah tetapkan status tangkap darurat

Tidak hanya pergerakan tanah, BPBD Kabupaten Serang juga mencatat bencana hidrometeorologi lain berupa banjir dan angin kencang yang meluas hingga 72 desa di 25 kecamatan.
"Pemerintah daerah pun telah menetapkan status tanggap darurat karena tingkat ancaman masih berada pada level sedang hingga tinggi," katanya.
3. Warga yang tinggal yang di tanah miring diimbau waspada

Ajat mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah dengan kontur tanah miring dan kondisi tanah labil, agar meningkatkan kewaspadaan. Mengingat, potensi cuaca ekstrem diprediksi masih terjadi hingga 22 Januari 2026.
“Masyarakat diminta siap melakukan evakuasi mandiri apabila melihat tanda-tanda keretakan tanah atau kenaikan debit aliran sungai yang signifikan," katanya.















