Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Bird Strike Meningkat, CEO Lion Group Minta Kolaborasi Penanganan

Bird Strike Meningkat, CEO Lion Group Minta Kolaborasi Penanganan
Potret Lion Air (pexels.com/@saturnus99)
Intinya Sih

  • Kasus bird strike meningkat signifikan sejak 2022 dan mencapai puncaknya pada 2025, memicu kekhawatiran di industri penerbangan terkait keselamatan dan operasional pesawat.
  • CEO Lion Air Group menegaskan insiden bird strike dapat menyebabkan kerugian finansial besar serta ancaman serius terhadap keselamatan penerbangan jika tidak ditangani secara terpadu.
  • Daniel Putut mendorong kolaborasi antara maskapai, pengelola bandara, dan AirNav Indonesia, serta mengusulkan pembentukan Direktur Safety di Angkasa Pura untuk memperkuat sistem keselamatan nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tangerang, IDN Times — Kasus bird strike atau tabrakan pesawat dengan burung dan satwa liar meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan karena berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

CEO Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan, upaya mitigasi risiko bird strike tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh stakeholder penerbangan. “Seluruh pemangku kepentingan di sektor penerbangan harus terlibat aktif dalam upaya mitigasi insiden bird strike ini demi menjaga keselamatan penerbangan,” kata Daniel, Sabtu (7/3/2026).

1. Kasus bird strike meningkat sejak 2022

Pewasat Airbus A330-343 dari Lion Air saat tiba di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, di Banjarbaru, Senin (24/4/2025). (dok/bandarasyamsudinnoor)
Pewasat Airbus A330-343 dari Lion Air saat tiba di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, di Banjarbaru, Senin (24/4/2025). (dok/bandarasyamsudinnoor)

Daniel menjelaskan, berdasarkan data internal Lion Group, jumlah kasus bird strike relatif minim pada periode 2012 hingga 2021. Namun tren tersebut mulai berubah sejak 2022 dengan peningkatan yang cukup signifikan. Lonjakan kasus bahkan terjadi pada 2023.

Meski sempat menurun pada 2024, penurunan itu dinilai hanya sementara karena pada 2025 jumlah kejadian kembali meningkat dan mencapai titik tertinggi dalam periode tersebut. “Pada 2026 insiden bird strike masih terus terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, tren peningkatan insiden tabrakan pesawat dengan burung juga diakui oleh maskapai lain. Karena itu, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama seluruh pelaku industri penerbangan.

2. Berpotensi menimbulkan kerugian dan risiko keselamatan

Pesawat Lion Air 330
Pesawat Lion Air 330

Menurut Daniel, insiden bird strike tidak hanya menimbulkan kerugian finansial bagi maskapai, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan. Risikonya bisa beragam, mulai dari kerusakan ringan pada pesawat hingga potensi kecelakaan fatal.

“Risiko bird strike bisa mulai dari kerusakan ringan hingga yang paling fatal. Jangan sampai terjadi fatal accident,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar Indonesia tidak kembali mengalami penurunan reputasi keselamatan penerbangan seperti yang pernah terjadi pada 2007, ketika sejumlah maskapai Indonesia mendapat larangan terbang ke wilayah Eropa.

3. Dorong koordinasi maskapai, bandara, dan AirNav

Pemandangan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan deretan pesawat terbang yang dioperasikan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air.
Pemandangan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dengan deretan pesawat terbang yang dioperasikan maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan Lion Air. (IDN Times/Dok Humas Bandara Ahmad Yani Semarang)

Daniel mengatakan penanganan bird strike membutuhkan koordinasi antara maskapai, pengelola bandara, serta penyedia layanan navigasi penerbangan seperti AirNav Indonesia.

Pengelola bandara memiliki fasilitas untuk mengusir burung di area operasional. Sementara petugas navigasi atau air traffic controller (ATC) dapat memberikan informasi kepada pilot mengenai aktivitas burung di sekitar bandara.

“Setelah mendapat informasi itu, pilot bisa melakukan antisipasi apakah tetap mendarat atau melakukan divert ke bandara alternatif,” jelasnya.

Selain itu, ia menilai setiap pihak perlu berinvestasi dalam sistem keselamatan dan memastikan peralatan yang digunakan dapat terintegrasi antara bandara, navigasi penerbangan, dan maskapai.

4. Daniel mengusulkan pembentukan direktur keselamatan di Angkasa Pura

Pesawat Lion Air di Bandara Lombok. (dok. Istimewa)
Pesawat Lion Air di Bandara Lombok. (dok. Istimewa)

Daniel juga mengusulkan agar perusahaan pengelola bandara nasional, PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports, memiliki jabatan Direktur keselamatan (safety) yang secara khusus bertanggung jawab pada pengawasan keselamatan. Menurutnya, posisi tersebut penting agar penerapan Safety Management System (SMS) berjalan sesuai standar keselamatan penerbangan internasional.

“Maskapai, penyedia navigasi penerbangan, maupun pengelola bandara sebaiknya memiliki direktur keselamatan agar koordinasi dapat dilakukan dalam satu level yang sama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari berbagai upaya tersebut adalah memastikan sektor penerbangan tetap menjadi moda transportasi yang aman bagi masyarakat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More