Comscore Tracker

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan Kelelahan

Sampai kapan?

Serang, IDN Times - Ambulans berkelir putih itu mulai berjalan perlahan dengan lampu harzard yang terus bekedip. Seolah membuat barikade, puluhan tenaga kesehatan berdiri berjajar di samping kanan dan kiri. Ada yang melambai, ada yang melipat tangan seraya merapal doa. 

Para tenaga kesehatan itu melepas dan memberi penghormatan terakhir untuk rekan sejawat mereka, dr Imai Indra, SpAn yang meninggal dunia karena COVID-19 pada 2 September lalu. Dia menjadi dokter pertama di Aceh yang gugur dalam perjuangan melawan COVID-19. 

“Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Aceh menyampaikan suka cita yang mendalam, sejawat kami, dr Imai Indra, SpAn yang merupakan salah satu pahlawan penanganan COVID-19,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Aceh Safrizal Rahman.

Kematian Imai menambah deret panjang tenaga kesehatan yang gugur saat menangani pasien-pasien COVID-19. Jumlah tenaga medis yang gugur itu kini sudah lebih dari 100 orang. Tak hanya dokter, perawat dan tenaga pendukung medis lainnya pun terpapar penyakit yang disebabkan virus corona tipe baru, SARS-CoV-2 itu. 

Banyak kalangan khawatir, jumlah tenaga medis yang gugur bakal bertambah. Pasalnya, menurut Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr Adib Khumaidi, tingginya angka kematian nakes merupakan gambaran bahwa ada masalah dalam infrastruktur kesehatan yang menyebabkan faktor risiko penularan bertambah.

"Infrastruktur tersebut meliputi ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD), ketersediaan obat, dan sumber daya manusia di rumah sakit," ungkapnya.

Salah satu dokter di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) COVID-19 Extension, dr. Debryna Dewi Lumanauw mengungkapkan banyak rumah sakit yang saat ini kekurangan alat pelindung diri (APD). 

"Saya gak usah ngomong yang luar pulau yah, saya ngomong yang di Jawa aja tapi agak masuk. Itu jauh sekali dari pertama sampai sekarang. Pertama mungkin masih ada donatur yang mau mendonasikan sampai ke pelosok-pelosok Jawa. Sekarang, sudah gak ada, bukan lagi menurun, tapi sudah gak ada lagi," katanya dalam Webinar IDN Times bertajuk Menjaga Indonesia, dengan tema 'Kisah Mereka Garda Terdepan Negeri'.

Debryna mengatakan, banyak media yang tidak lagi memberitakan soal kurangnya APD. Media juga tak menyadari, jika tenaga medis kekurangan APD di saat angka COVID-19 di Indonesia terus meningkat.

"Di saat-saat seperti ini teman-teman sejawat saya itu di luar Jakarta mereka kekurangan APD. Ini sih yang menurut saya harus dijadikan prioritas yang lebih ini lagi. Sekarang kita sudah beneran gak ada apa-apa lagi, mau beli saja gak ada. Sekarang terlalu mahal, sudah gak ada budget itu juga," sambungnya.

Berikut jibaku para tenaga medis di garis terdepan dalam menghadapi pasien-pasien COVID-19. Mereka mempertaruhkan nyawa, di tengah minimnya fasilitas keselamatan. 

Baca Juga: 6 Bulan COVID-19 Jangkiti Indonesia, Sudah 100 Dokter yang Meninggal

Baca Juga: Kasus Pertama di Aceh, Dokter Spesialis Meninggal Karena COVID-19

1. Ironi di garda terdepan, nakes di Banten sampai harus sterilkan APD sendiri

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanIlustrasi tenaga medis mengenakan APD (ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah)

Kisah pertama dibagikan seorang tenaga kesehatan (nakes) di sebuah rumah sakit daerah di Banten. Para nakes di rumah sakit tersebut merawat pasien corona di tengah minimnya alat pelindung diri (APD).

Kacamata google medis dan masker N95 baru diganti tiga hari sekali padahal dalam standar operasional yang ada hanya digunakan satu kali. Hal ini terjadi lantaran mulai minimnya ketersediaan alat tersebut di rumah sakit.

Ironisnya, mereka harus melakukan sterilisasi kacamata google medis dan masker N95 sendiri di rumah masing-masing.

"Iya jadi katanya ketersediaan alat sterilisasi di RS udah pada rusak jadinya kita disuruh dicuci di rumah dan disterilin sendiri padahal kan itu risiko banget. Harusnya kita ke rumah gak bawa virus eh ini suruh sterilin sendiri. Belum lagi masker N95 yang di rebus sendiri di rumah," kata AR, salah satu tenaga kesahatan di sebuah RSUD saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2020).

Seharusnya, kata AR, APD di zona merah penanganan pasien virus corona hanya boleh digunakan satu kali karena virus rawan menempel di kostum APD tersebut.

Nasib "lebih beruntung" dialami Melati (bukan nama sebenarnya). Nakes di sebuah rumah sakit di Kabupaten Tangerang ini mengaku bahwa stok APD di tempatnya bertugas masih terbilang cukup. Meski begitu, untuk APD tingkat 1 dan 2 yang digunakan untuk rawat inap diganti setiap enam minggu.

Sementara itu, untuk yg tingkat kewaspadaan tinggi seperti IGD, kamar bersalin, IGD COVID-19, dan isolasi COVID-19 tenaga kesehatan di rumah sakit tempat Melati memang disiplin, yakni wajib memakai APD level 3 (hazmat lengkap). 

Meski demikian, Melati mengutarakan bahwa jumlah nakes tidak sebanding dengan jumlah pasien COVID-19 yang terus bertambah. 

"Buat nakes yang tugas di COVID-19, pasien lagi banyak-banyaknya, tapi tenaga kurang cuma ada 10 perawat buat 20 pasien itupun dibagi tiga shift jumlahnya mepet," ungkap Melati saat ditemui IDN Times, Kamis (3/9/2020).

Lalu apa kata pemerintah mengenai ketersediaan APD di Banten itu?

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramudji Hastuti mengklaim bahwa APD untuk tenaga medis yang menangani pasien corona mulai dari petugas puskesmas, petugas rumah sakit dan petugas laboratorium hanya mencukupi sampai dengan akhir tahun 2020.

"Kami akan melakukan pengadaan kembali untuk awal tahun 2021 mendatang mengingat pandemik masih berlangsung," katanya.

Dia lantas menjelaskan alur pengadaan APD ini, khususnya di fasilitas kesehatan milik pemerintah. Menurutnya, pengadaan APD untuk rumah sakit, puskesmas, dan laboratorium milik pemerintah yang menangani COVID-19 dibeli dari anggaran pemerintah daerah (pemda) mulai dari provinsi hingga kabupaten/kota.

Selain melakukan pengadaan sendiri, daerah pun mendapatkan bantuan APD dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan yang didistribusikan ke Dinkes kabupaten/kota dan rumah sakit umum daerah yang menjadi rujukan COVID-19.

"Tapi APD untuk rumah sakit swasta dibeli dari anggaran masing-masing rumah sakit swasta," kata Ati saat dikonfirmasi, Kamis (3/9/2020).

Baca Juga: Jibaku Tenaga Kesehatan Bekerja di Tengah Minimnya APD 

Baca Juga: APD di Sejumlah Rumah Sakit Minim, Begini Alur Pengadaannya

2. Pandemik, RSUD di Semarang ini butuh hazmat dalam jumlah yang tinggi setiap harinya

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanTenaga kesehatan mengenakan APD lengkap (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Kebutuhan APD, khususnya baju hazmat, bagi nakes yang menangani pasien COVID-19 memang tidak main-main. Misalnya, RSUD KRMT Wongsonegoro Kota Semarang yang per hari membutuhkan sedikitnya 120 pakaian hazmat.

Dihubungi IDN Times pada 2 September lalu, Direktur Utama RSUD KRMT Wongsonegoro, Susi Herawati mengatakan, kebutuhan baju hazmat tergantung setiap ruangannya. Misalnya di ruang isolasi, katanya, para nakes sehari bisa memakai 30 hazmat. "Tapi kalau dijumlah semuanya, kita rutin menghabiskan 120 baju hazmat untuk nakes," jelasnya.

Sejauh ini, dia mengklaim bahwa jumlah APD, termasuk hazmat, di rumah sakit pimpinannya masih cukup untuk dua bulan ke depan. 

Beda hazmat, beda pula masker. Untuk benda perlindungan yang satu ini, kebutuhannya lebih banyak lagi. Susi mengungkap, untuk proses perawatan pasien COVID-19, pihaknya menghabiskan hingga 1.500 masker bedah setiap hari. Namun untuk pasien non-virus corona setiap hari bisa sampai 2.000 masker.

Kebutuhan masker saat ini terus melonjak menyusul adanya aturan di RSUD Wongsonegoro bahwa setiap pengunjung, nakes maupun pasien diwajibkan memakai masker.

"Di rumah sakit sekarang bermasker semua. Kalau di ruangan COVID-19, nakes pakai masker bedah. Yang masker kain dipakai buat yang di ruangan non-virus corona," bebernya. 

Selain APD, Susi mengaku rumah sakit pimpinannya juga kekurangan peralatan reagen untuk melaksanakan polymerase chain reaction (PCR). "Kami sempat dapat bantuan 5.000 reagen tapi cuma buat 10 hari. Selama ini kan dipasok BNPB dan Dinkes. Tapi gak banyak, karena pengadaannya mungkin juga gak banyak," kata dia. 

Baca Juga: Tes PCR COVID-19 di Jateng Turun Tajam, Awal Ribuan Kini Cuma Ratusan

Baca Juga: Kasus Tinggi, RSUD Semarang Kekurangan Reagen Tes PCR COVID-19

3. Sempat ramai di awal pandemik, gelombang bantuan APD dari masyarakat mulai surut

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanIDN TImes/M Shakti

Di awal masa pandemik COVID-19, gelombang bantuan APD datang bergantian untuk tenaga kesehatan. Tapi belakangan, di beberapa daerah di Indonesia, ketersediaan APD disebut mulai minim, begitu pun dengan bantuan yang datang.

Di Makassar, sejauh ini ketersediaan APD untuk tenaga kesehatan di rumah sakit dan puskesmas dianggap masih mencukupi. "Termasuk IDI juga masih cukup untuk mendistribusikan ke puskesmas dan ke rumah sakit," kata Humas IDI Makassar, dr Wachyudi Muchsin kepada IDN Times via telepon, Jumat (4/9/2020).

Meski begitu, Wachyudi tidak menampik bahwa sumbangan APD yang masuk memang cenderung berkurang. Menurutnya, itu disebabkan kondisi ekonomi yang sedang sulit.

Wachyudi mengakui bahwa memang di awal masa pandemik COVID-19, dokter dan tenaga kesehatan termasuk di Kota Makassar memang sempat kesulitan menangani pasien COVID-19 lantaran kekurangan APD. Namun perlahan-lahan pihaknya pun mulai menerima banyak sumbangan APD. 

"Dari sumbangan itu, IDI menyalurkan ke rumah sakit dan puskesmas yang dianggap zona merah atau paling banyak pasiennya yang dirujuk pasien COVID-19," dia menerangkan.

Setelah hampir 6 bulan masa pandemik COVID-19 di Kota Makassar, Wachyudi mengakui bahwa stok bantuan APD melemah dibandingkan di awal masa pandemik. Meski begitu, masih ada pihak-pihak yang tetap membantu memberikan APD untuk didistribusikan oleh IDI. 

"Ditambah juga rumah sakit ini memiliki cadangan dari sumbangan-sumbangan ataupun pengadaan dari rumah sakit, atau bantuan dari Menteri Kesehatan dan bantuan-bantuan lainnya," kata Wachyudi.

Turunnya gelombang bantuan APD ini pun diakui Ketua IDI Jombang, Jawa Timur, dr Achmad Iskandar Dzulqornain.  "Pengadaan (APD) terus dilakukan, donasi sudah sebulan terakhir ini mulai berkurang. Alhamdulilah tidak terlalu mengganggu karena posisinya barang di pasaran sudah tersedia," ucapnya.

Sejauh ini, Achmad Iskandar mengaku belum mendengar ada keluhan terkait kurangnya APD. Direktur RSUD Ploso Jombang itu menyebut, APD kini relatif mudah ditemukan.

Sumber APD pun bermacam macam. Para nakes swasta, dipersilakan melakukan pengadaan APD sendiri. Sedangkan yang dari rumah sakit pemerintah daerah, APD menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

"Karena posisinya kita harus membeli sendiri, harus diefisienkan. Tapi saat ini APD tercukupi, bukan berarti berlebihan," imbuhnya.

Dia mengakui, Pada Maret sampai Mei lalu memang masih banyak keluhan, namun Juni hingga sekarang sudah mulai berkurang.

Beberapa kali kesulitan APD yang dihadapi para nakes--terutama sejak awal pandemik--difasilitasi IDI dengan menggalang donasi. Hasil donasi itu kemudian diwujudkan dalam bentuk APD untuk kemudian disalurkan. Donasi itu terus diulang-ulang hingga terakhir berlangsung pada Minggu lalu.

Baca Juga: Sudah Tujuh Dokter Positif COVID-19, IDI Jombang Pastikan APD Cukup

4. Jumlah pasien COVID-19 terus meningkat, para nakes kelelahan

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanDokter meninggal karena COVID-19 ( ANTARA FOTO/Ampelsa)

Secara nasional, sudah ada 105 dokter yang gugur dalam melawan wabah COVID-19, lima di antaranya berasal dari Makassar. Humas IDI Makassar, dr Wachyudi Muchsin mengungkapkan, penyebab lain meninggalnya para dokter itu adalah kelelahan.

Bagaimana tidak, seorang dokter pada umumnya harus merawat 100 orang pasien COVID-19. "Sekuat apa pun APD, sekuat apa pun antibodi akan bobol juga kalau 1 dokter merawat 100 pasien. Itu di seluruh Indonesia," sebut Wachyudi.

Faktor lainnya, kata Wachyudi, karena kasus COVID-19 yang memang masih tinggi. Menurutnya hal ini tidak sebanding dengan jumlah dokter yang menangani, sementara kasus terus bertambah.

"Stok APD kami memadai. Cuma kenapa banyak dokter terpapar? Karena masyarakat begitu banyak yang kena sementara dokter yang hadapi itu-itu saja," kata Wachyudi.

IDI Makassar berharap pemerintah juga lebih peduli terhadap kesehatan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Mulai dari pemenuhan gizi atau apapun itu yang bisa mempertahankan antibodi saat mereka bertugas di rumah sakit. Sebab selama ini, kata Wachyudi, perhatian pemerintah terhadap hal tersebut masih kurang. 

Selain itu, dia juga berharap pemerintah tetap memperhatikan ketersediaan APD di rumah sakit. Karena walau bagaimana pun, APD tetap menjadi kebutuhan dasar bagi tenaga kesehatan, khususnya di masa pandemik ini. 

"Jangan sampai stoknya menipis lalu kewalahan. Awalnya kan terbatas, sekarang alhamdulilah sudah mulai bagus. Tapi jangan sampai kebobolan, karena sampai saat ini COVID-19 belum menandakan fase penurunan," kata Wachyudi.

Faktor kelelahan para nakes pun diamini Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 nasional, Wiku Adisasmito. Dia meminta jam kerja tenaga medis dibatasi. Wiku mengutarakan, jam kerja tenaga kesehatan harus dibatasi agar mereka tidak kelelahan.

Rasio dokter dan pasien yang ditangani di rumah sakit juga menjadi sorotan Wiku. Dia meminta rasio itu harus dikendalikan, salah satunya dengan cara pengurangan jam kerja tadi.

"Agar tidak timbul kelelahan pada tenaga kesehatan," jelas Wiku dalam keterangan persnya yang disiarkan langsung di channel YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga: Ketersediaan APD di Makassar Memadai Meski Bantuan Berkurang

5. Dokter dengan penyakit penyerta diimbau tidak buka praktik dulu

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanIlustrasi tenaga medis ( ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Ketua IDI Jombang, dr Achmad Iskandar Dzulqornain menjelaskan, sejak awal pandemik COVID-19 sampai sekarang, IDI terus mengingatkan pada nakes agar selalu mengamankan diri, baik melalui penggunaan APD hingga memperhatikan prosedur layanan, mulai dari mengurangi kontak, melakukan screening pasien risiko COVID-19 rendah, sedang, atau tinggi.

"Karena pandemik ini belum berakhir, maka upaya-upaya untuk mengurangi resiko tertular itu harus tetap disiplin dilakukan teman-teman dokter," kata dia. Upaya itu termasuk melaksanakan protokol pelayanan, prosedur pelayanan, alur pelayanan, melakukan proses screening terus menggunakan APD baik bagi dirinya, stafnya maupun pasien yang mau berobat. 

Catatan IDI Kabupaten Jombang, sudah ada tujuh dokter yang berdomisili di Kabupaten Jombang terkonfirmasi positif COVID-19. Dari Jumlah itu, dua di antaranya bertugas di luar daerah. "Dua (yang) bertugas di luar kabupaten, tapi domisili di Jombang," kata Achmad Iskandar.

Dari ketujuh dokter yang terpapar virus corona, satu orang bergejala cukup berat karena memiliki penyakit penyerta. Namun, saat ini yang bersangkutan sudah sembuh dan membaik. Diduga dia terpapar di tempat praktik pribadi.

Untuk itu, IDI juga meminta seorang dokter harus benar-benar menghitung tingkat resiko yang dihadapinya. Jika mempunyai risiko tinggi terpapar COVID-19, disarankan agar tidak membuka praktik terlebih dahulu.

"Jadi maksudnya kalau yang bersangkutan itu posisi usianya sudah di atas 60 tahun, kebetulan punya komorbid, misalnya hipertensi, diabet atau penyakit jantung. Kami tidak melarang, tapi menyarankan agar tidak praktik dulu seperti itu," saran Iskandar.

"Dan kami juga bersurat ke direktur- direktur rumah sakit agar dokter yang menangani langsung COVID-19 itu sesuai dengan imbauan kami tadi," lanjutnya.

6. Warga yang abai dan jalan-jalan ke wilayah zona merah bikin nakes kesal, khawatir, hingga stres loh

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanIDN TImes/M Shakti

Nakes yang bertugas sebagai perawat di salah satu puskesmas di Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) i mengutarakan kecemasannya dengan perilaku warga yang abai di tengah pandemik COVID-19.

Nakes yang tidak mau disebut namanya itu menyebut, masih banyak warga yang datang dari luar Kalimantan Timur, masuk ke PPU, untuk mencari pekerjaan. Ia kerap merasa kesal karena banyak warga PPU yang bepergian ke zona merah hanya untuk sekedar jalan-jalan dan belanja saja.

“Kami cemas, khawatir dan stres. Ini berdampak pada psikologis kami, apalagi jarang pulang bertemu anak, istri atau suami dan keluarga. Bahkan menimbulkan depresi. Khawatir diasingkan oleh masyarakat kalau terpapar COVID-19 dimana kami sangat rawan terkena, sementara apresiasi yang diberikan juga belum cukup,” tuturnya kepada IDN Times, Selasa (1/9/2020) di Penajam.

Untuk itu, dia berharap pemerintah setempat memperhatikan nakes yang bertugas di pos pengetatan, seperti di pelabuhan sebagai pintu masukke  PPU.

“Pemerintah harus lebih memperhatikan standar keselamatan untuk para nakes serta petugas pos pengetatan, terutama mereka yang berjuang langsung menyelamatkan pasien COVID-19, mengingat  pencegahan serta penyebaran virus ini terus meningkat di PPU dan mereka jadi garda terdepan,” tegasnya.

Selain itu, di juga berharap pemerintah memberikan perhatian kepada nakes dengan memastikan ketersediaan APD, vitamin C, rapid/swab test secara berkala, hingga pencairan insentif. 

“Hingga kini para tenaga kesehatan (nakes) belum mendapatkan tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah, padahal di daerah lain sudah menerima. Bahkan di Kota Samarinda nakesnya sudah dua kali menerima tunjangan tersebut. Kayanya cuma di PPU saja yang belum ada sama sekali,” kata perawat ini.

Dia berharap, tunjangan tersebut bisa segera tersalurkan kepada seluruh nakes, sehingga mereka bisa lebih fokus dalam penanganan pasien COVID-19 yang kian hari makin bertambah jumlah kasusnya. 

Terkait APD, stok di puskesmas tempatnya bekerja pun terbatas, hanya 20 unit. Dengan petugas jaga ada beberapa orang yang bekerja dalam tiga shift, menurutnya, APD hanya cukup untuk dua hari saja.

“Kami juga kekurangan vitamin, bagaimana kami menjaga diri agar tak terkena COVID-19. Kami berupaya untuk berpikir positif supaya imun tidak turun. Kami mengonsumsi vitamin walau dengan modal pribadi," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU, dr. Arnold Wayong menjelaskan sesuai peraturan pemerintah yang berhak menerima tunjangan adalah mereka yang menangani pasien COVID-19 secara langsung, baik di puskesmas/PKM maupun di rumah sakit. Jadi tidak semua nakes mendapatkannya.

“Mekanisme pengusulannya, yakni PKM mengusulkan nakes terdampak ke Dinkes guna diverifikasi lalu diteruskan ke Kementerian Kesehatan. Begitu pula untuk di rumah sakit diverifikasi oleh tim rumah sakit dan Dinkes. Namun untuk pencairan anggaran kami sedang merancang peraturan kepala daerah (perkada) sebagai persyaratan dari Kementerian Keuangan,” terang Arnold.

Dituturkannya, proses pencairan dana ini ada dua alternatif, yakni pertama melalui jalur perubahan anggaran dan perkada. Tetapi dengan perkada prosesnya dinilai lebih cepat. Proses pembuatan perkada juga segera rampung sehingga bisa dijadikan dasar untuk melakukan verifikasi dan pencairan anggaran tunjangan bagi tenaga kesehatan.

“Oleh karena itu, kami minta para nakes untuk bersabar karena ada beberapa proses yang harus kita lalui sebagai dasar pemberian tunjangan tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, katanya, untuk perlindungan, nakes wajib menggunakan APD apabila melayani pasien COVID-19. APD itu harus melindungi secara ketat dan sempurna. Sedangkan untuk pelayanan pasien nonCOVID-19 dapat menggunakan APD tingkat dua.

Hingga kini, tambah Arnold, stok APD cukup untuk kebutuhan dua hingga tiga bulan ke depan. Sementara bantuan APD didapatkan dari pemerintah pusat melalui Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Selebihnya dipenuhi dari anggaran BTT. 

“Berdasarkan data kami, nakes yang terpapar COVID-19 hingga kini berjumlah ada tujuh orang. Empat dari RSUD PPU di ruang IGD, dan di PKM tiga orang terdiri dari satu dokter, satu bidan dan satu perawat. Semua telah mendapatkan perawatan secara maksimal sesuai protokol yang ada,” tegasnya.

Baca Juga: Tenaga Kesehatan di Penajam Paser Utara Belum Terima Insentif COVID-19

7. Dalam segala keterbatasan dan lelah, nakes tetap bekerja dan merawat pasien COVID-19

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanVaksin COVID-19 (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Selama vaksin dan obat COVID-19 belum ditemukan, pandemik masih jauh dari kata selesai. Perjuangan para nakes kian berat, seiring pertambahan kasus baru dari hari ke hari.

Meski demikian tidak mengurangi semangat para perawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar. Kepala Perawat Ruang Mawar, Nyoman Eta Risnawati, mengungkapkan kesaksiannya selama merawat pasien COVID-19.

Dihubungi IDN Times melalui sambungan telepon pada Kamis (3/9/2020), ia menceritakan bagaimana gambaran ruangan bertekanan negatif yang digunakan untuk merawat pasien COVID-19, para perawat yang wajib memakai hazmat lapis tiga, hingga tidak leluasanya mereka untuk berinteraksi dengan pasien.

“Kami memakai APD level tiga namanya. Kami semua tertutup oleh APD, perasaan panas sesak di dalam. Juga tidak bisa terlalu lama berada di dalam. Jadinya kan kesempatan kami berinteraksi dengan pasien itu tidak terlalu leluasa jadinya,” katanya.

Di Provinsi Bali, kasus COVID-19 baru bertambah 174 orang per 3 September 2020. Sebanyak  879 orang masih dirawat, empat orang meninggal, dan 117 pasien berhasil sembuh.

Lebih dari enam bulan merawat pasien COVID-19, ia bersama rekan-rekannya justru tidak merasa bosan. Sebab kata Eta, saking banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, mereka malah merasa waktu berjalan begitu cepat.

“Ya sudah enam bulan berjalan. Kalau kata teman-teman saya yang sharing, tidak sempat bosan katanya," kata Eta.

Apakah selama itu pula nakes kekurangan APD? Dari cerita Eta, RSUP Sanglah tidak pernah sampai kekurangan APD. “Minim APD nggak pernah. Kami belum pernah masuk tanpa APD lengkap. Itu belum pernah,” kata Eta.

Namun Kasubag Humas RSUP Sanglah, I Ketut Dewa Kresna, mengatakan pernah mengalami keterbatasan APD di awal pandemik. “Tapi seiring berjalannya waktu, suplai APD sudah berjalan lancar. Semua stock tersedia,” jelas Kresna.

Sekarang ini, semua kebutuhan APD di RSUP Sanglah dalam kondisi masih aman. Baik berupa paket APD lengkap, baju coverall Level 2 dan Level 3, masker N95 dan KN95, sepatu boot, sarung tangan non steril, shoes cover, nurse cup, google, gown lengan panjang, sarung tangan, apron, masker bedah, dan face shield.

Eta mengakui, dulunya pernah bekerja shift yang durasi waktunya agak panjang. Namun saat ini, manajemen telah mengizinkan kerja shift dengan durasi yang lebih pendek. Pertimbangannya adalah durasi pemakaian baju hazmat yang memang terbatas, dan kesibukan para perawat selama menangani pasien.

“Jadi dengan waktu seperti itu, capeknya teman-teman terbayarkan. Karena kan benar-benar pada saat malam itu, kami nggak dapat waktu istirahat jeda sama sekali. Kami yang malam itu bisa beberapa kali masuk pakai baju hazmat. Seperti itu,” ujar Eta.

Pada saat awal pandemik--sekitar bulan April-Mei 2020-- pasien COVID-19 yang dirawat cenderung sedikit dan relatif memiliki keluhan sedang. Namun memasuki bulan berikutnya hingga Agustus, banyak pasien COVID-19 dengan gejala berat hingga kritis datang silih berganti dan harus dirawat di Ruang Mawar. Mereka sampai menggunakan oksigen.

“Ini penyakit yang benar-benar menakutkan buat kami semuanya, buat para tim tenaga kesehatan. Bagaimana caranya agar pandemik ini cepat berlalu? Setidaknya kalau tidak cepat berlalu, angka kejadiannya bisa sedikit, gitu. Sehingga rumah sakit tidak kewalahan untuk merawat pasien.”

8. Bantu nakes untuk mendapatkan APD

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanJason (13) saat menyerahkan donasi APD kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beberapa waktu lalu. IDN Times/Dok istimewa

Usianya baru 13 tahun. Namun, Jason Surya Tamin berpikir jauh ketika matanya melihat segerombolan orang di pinggir jalan asyik bercengkrama tanpa masker di akhir April 2020. 

Saat itu, kasus COVID-19 di Kota Surabaya sedang tinggi-tingginya dan mulai memasuki masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Jason lihat di luar orang-orang kok gak pakai masker ya. Pasti kekurangan ini karena banyak yang borong. Waktu lewat rumah sakit ini pakai APD tambah khawatir,” tutur Jason saat dihubungi IDN Times, Jumat (4/9/2020).

Melihat pemandangan itu, hati kecil Jason terketuk. Sesampainya di rumah setelah berbelanja, pria kecil berkaca mata ini langsung menghadap kedua orangtuanya. Ia meminta izin untuk bisa memberikan sumbangan APD dan masker. Agar dibolehkan, Jason pun mengikhlaskan uang hasil dagangan siomainya yang sebenarnya bisa dibelikan benda lain untuk didonasikan berupa APD dan masker.

“Mah, Pah, Jason mau nyumbang APD dan masker. Gak usah pake uang Mama sama Papa pake uang jualan siomai,” tutur Jason menirukan ucapannya kala itu.

Orangtua Jason pun menyetujui permintaan polos anak mereka. Jason yang kegirangan kemudian mengumpulkan informasi tempat pembelian APD dan masker. Maklum, saat itu APD dan masker sedang langka-langkanya.

Jason ingat saat itu baru dua pekan ia berjualan siomai. Tapi, ia belum bisa menikmati hasil penjualannya. Jason kemudian membelanjakan sekitar Rp5-6 juta untuk membeli APD dan masker yang akan didonasikan. Ia dan orangtuanya mencari-cari ke berbagai tempat untuk bisa membeli APD dan masker.

“Waktu itu keliling Surabaya gak nemu. Nyari online juga mahal-mahal. Akhirnya ketemu yang harganya lumayan,” lanjutnya.

Berbekal uang itu, Jason membelikan 900 baju hazmat dan 20 kotak masker medis. Sumbangan itu bahkan diberikan langsung kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Jason ingat bagaimana semringahnya ia saat memberikan sumbangan itu.

9. Nakes berguguran, apa kata pemerintah?

Ironi Pandemik, Nakes Terus Berguguran Karena APD Minim dan KelelahanPresiden Jokowi dalam Rapat Terbatas Mengenai Penanganan COVID-19 dan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (24/8/2020) (Dok. Biro Pers Kepresidenan)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengucapkan belasungkawa kepada nakes yang meninggal dunia karena COVID-19. Hal itu disampaikan oleh Juru Bicara Presiden Jokowi, Fadjroel Rachman pada 2 September lalu. 

"Presiden Joko Widodo menghaturkan belasungkawa sedalam-dalamnya terhadap tenaga medis yang meninggal dunia (Selasa, 1/9) di Istana Bogor," kata Fadjroel dalam keterangan tertulisnya.

Jokowi, kata Fadjroel, juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tenaga medis yang bekerja sangat keras dan sangat baik sejak pandemik COVID-19 melanda Indonesia. "Berjibaku tanpa sekat apapun, dengan penuh dedikasi dan profesional," ujar Fadjroel.

Pemerintah, lanjut Fadjroel, mengajak setiap orang untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Hal itu penting agar tidak semakin banyak masyarakat yang tertular dan menyebabkan tenaga medis kewalahan.

"Agar rumah sakit dan tenaga medis tidak kewalahan dalam menangani pasien COVID-19, dan berakibat kurang baik kepada tenaga medis," ungkap dia.

Fadjroel menyampaikan bahwa masyarakat menjadi garis terdepan untuk memutus penyebaran virus corona. Selain itu, pemerintah juga mengimbau para tenaga medis dan rumah sakit untuk selalu disiplin menerapkan pembatasan jam kerja.

"Karena tenaga medis penolong terakhir masyarakat bila terdampak COVID-19. Pemerintah menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk melindungi tenaga medis kita, termasuk APD lengkap dan insentif," jelas Fadjroel.

Jibaku melawan wabah COVID-19 adalah perjuangan yang panjang dan berat, terutama untuk nakes. Mari bantu nakes dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan ya guys.

IDN Times turut berduka cita untuk para nakes yang gugur saat bertugas menghadapi pandemik COVID-19...

Baca Juga: Kisah Jason, Jualan Siomai untuk Berdonasi APD di Tengah Pandemik

Baca Juga: Tes PCR COVID-19 di Jateng Turun Tajam, Awal Ribuan Kini Cuma Ratusan

Tulisan ini merupakan kolaborasi dari sejumlah hyperlocal IDN Times, dengan penulis:
Muhammad Saifullah, Ashrawi Muin, Sahrul Ramadan, Dhana Kencana, Fariz Fardianto, Fitria Madia, Zainul Arifin, Ervan Masbanjar, Khaerul Anwar, Maya Aulia Aprilianti,
Ayu Afria Ulita Ermalia, Dini Suciatningrum, Axel Joshua Harianja, Teatrika Handiko Putri

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau
  • Septi Riyani

Berita Terkini Lainnya