Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Orangtua Bertengkar, 226 Anak di Banten Jadi Korban Kekerasan Psikis
Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)
  • DP3AKB Banten mencatat 226 anak menjadi korban kekerasan psikis sepanjang 2025, dengan laporan terbanyak berasal dari Kota Tangerang Selatan dan Cilegon.
  • Banyak kasus dipicu oleh anak yang sering menyaksikan pertengkaran orangtua di rumah, bahkan kekerasan terhadap ibu di depan mereka.
  • Dampaknya, anak cenderung pendiam dan kehilangan kepercayaan diri; DP3AKB memberikan pendampingan psikologis serta layanan konseling untuk pemulihan mental korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Sebanyak 226 anak di Provinsi Banten dilaporkan menjadi korban kekerasan psikis sepanjang tahun 2025, berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Banten.
  • Who?
    Anak-anak korban kekerasan psikis serta pihak DP3AKB Banten yang dipimpin Iwan Aridiansyah Sentono sebagai instansi yang menangani dan mencatat kasus tersebut.
  • Where?
    Kasus paling banyak terjadi di Kota Tangerang Selatan dengan 112 kasus, disusul Kota Cilegon sebanyak 54 kasus, serta wilayah lain di Provinsi Banten.
  • When?
    Kejadian berlangsung sepanjang tahun 2025, dengan keterangan resmi disampaikan pada Senin, 9 Maret 2026.
  • Why?
    Banyak anak mengalami gangguan psikis karena sering menyaksikan pertengkaran orangtua di rumah atau mendengar ucapan yang merendahkan dari lingkungan terdekat mereka.
  • How?
    Kekerasan psikis muncul melalui makian atau perlakuan verbal yang merendahkan. DP3AKB memberikan pendampingan psikologis, layanan konseling, dan rumah aman bagi anak-anak yang terdampak trauma.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Serang, IDN Times – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Banten mencatat, sebanyak 226 anak menjadi korban kekerasan psikis sepanjang 2025.

Data tersebut dihimpun dari laporan masyarakat serta laporan yang masuk melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni-PPA).

1. Kasus terbanyak terjadi di Tangsel

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Kepala DP3AKB Banten Iwan Aridiansyah Sentono mengatakan, kasus kekerasan psikis terhadap anak paling banyak terjadi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dengan 112 kasus, disusul Kota Cilegon sebanyak 54 kasus.

“Biasanya kalau untuk kekerasan psikis seperti makian yang merendahkan. Hal yang membuat korban merasa rendah dan tidak percaya diri dengan kemampuannya atau loss of confidence,” kata Iwan, Senin (9/3/2026).

2. Mental anak terganggu karena sering melihat pertengkaran orangtua

Ilustrasi kekerasan anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Selain ucapan yang merendahkan, banyak kasus kekerasan psikis pada anak juga dipicu karena mereka sering melihat pertengkaran orangtuanya di rumah. “Terkadang anak itu melihat pertengkaran orangtua yang terus-menerus. Kadang juga ibunya dipukul oleh bapaknya di depan anaknya, otomatis psikis anak terganggu,” ujarnya.

Kondisi itu secara perlahan memengaruhi kondisi mental dan emosional anak. Dalam beberapa kasus, anak bahkan menyaksikan langsung ibunya menjadi korban kekerasan oleh ayahnya. Situasi tersebut membuat kondisi psikologis anak terganggu.

3. Dampak kekerasan psikis, anak lebih pendiam dan kehilangan percaya diri

Ilustrasi Kekerasan Anak (npr.org/Hanna Barczyk)

Menurut Iwan, dampak kekerasan psikis biasanya terlihat dari perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan, hingga kehilangan rasa percaya diri. Kondisi ini sering kali baru disadari orang tua setelah berlangsung cukup lama.

Untuk menangani kasus tersebut, DP3AKB Banten memberikan pendampingan psikologis kepada korban, termasuk layanan konseling hingga rumah aman bagi anak yang mengalami trauma.

“Tergantung kebutuhan pelapor. Kadang orangtua ingin mental anaknya kembali pulih dan percaya diri,” katanya.

Editorial Team