Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Teknologi Biopos Bisa Jadi Solusi Sampah dan Banjir di Tangsel

Biopori Kantor, Cara DCKTR Tangsel Kurangi Sampah (Dok. IDN Times/Feri)
Biopori Kantor, Cara DCKTR Tangsel Kurangi Sampah (Dok. IDN Times/Feri)
Intinya sih...
  • Satu Biopos mampu serap air 500 liter per jam
  • Biopos bisa jadi solusi konkret
  • Teknologi ini dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tangerang Selatan, IDN Times – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai melirik teknologi Biopos atau Biopori dan Komposter Sumur Resapan, sebagai solusi ganda untuk mengatasi persoalan sampah organik dan banjir yang kerap melanda kawasan permukiman.

Biopos dinilai efektif karena mampu mengolah sampah organik langsung dari sumbernya sekaligus meningkatkan daya resap air ke dalam tanah. Teknologi ini berbentuk lubang atau pipa vertikal yang ditanam di tanah, berfungsi sebagai komposter sekaligus sumur resapan air hujan.

1. Satu Biopos mampu serap air 500 liter per jam

Warga Tangsel Bangun Puluhan Biopori, Atasi Sampah Organik dari Rumah (IDN Times/Muhamad Iqbal)
Warga Tangsel Bangun Puluhan Biopori, Atasi Sampah Organik dari Rumah (IDN Times/Muhamad Iqbal)

Ahli Perekayasa Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Hidayat menjelaskan, bahwa satu unit Biopos mampu menyerap hingga 500 liter air per jam, sekaligus mengolah limbah organik rumah tangga menjadi kompos.

“Biopos menjawab dua masalah sekaligus, yakni sampah organik dan genangan air. Sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan padat seperti Tangsel,” ujarnya.

2. Biopos bisa jadi solusi konkret

Biopori Kantor, Cara DCKTR Tangsel Kurangi Sampah (Dok. IDN Times/Feri)
Biopori Kantor, Cara DCKTR Tangsel Kurangi Sampah (Dok. IDN Times/Feri)

Data Dinas Lingkungan Hidup Tangsel menunjukkan, timbulan sampah harian di kota ini sempat menembus lebih dari 1.000 ton per hari. Di sisi lain, sejumlah kawasan masih rawan banjir akibat minimnya ruang resapan air. Kondisi ini mendorong perlunya solusi berbasis teknologi yang mudah diterapkan oleh masyarakat.

Biopos telah diuji coba di sejumlah kawasan, seperti Perumahan Batan Indah Serpong, BSD City, hingga lingkungan sekolah di Tangerang Raya. Hasilnya, volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir berkurang, sementara genangan air saat hujan juga menurun.

Pemkot Tangsel menilai teknologi ini dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat. Dengan biaya murah dan perawatan sederhana, Biopos memungkinkan setiap rumah tangga berkontribusi langsung dalam pengurangan sampah dan pencegahan banjir.

“Jika diterapkan secara masif, Biopos bisa menjadi solusi konkret untuk mewujudkan Tangsel yang lebih bersih, sehat, dan tangguh terhadap banjir,” kata Nur.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ita Lismawati F Malau
EditorIta Lismawati F Malau
Follow Us

Latest News Banten

See More

DPR RI Dorong Pesawat Bukan Lagi Transportasi untuk Kalangan Atas

04 Feb 2026, 11:55 WIBNews