500 Suspek Campak di Kabupaten Serang, 10 Terkonfirmasi

- Dinas Kesehatan Kabupaten Serang mencatat sekitar 500 suspek campak dari Januari hingga Maret 2026, dengan 10 kasus terkonfirmasi positif setelah pemeriksaan laboratorium.
- Peningkatan kasus campak terjadi hampir di seluruh kecamatan dan dipicu oleh turunnya cakupan imunisasi sejak pandemi COVID-19 yang mengganggu layanan posyandu.
- Dinkes Serang menerapkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons untuk menindaklanjuti laporan, melakukan pelacakan, serta memastikan penanganan cepat terhadap setiap kasus yang muncul.
Serang, IDN Times - Lonjakan kasus suspek campak terjadi di Kabupaten Serang, sepanjang Januari hingga Maret 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sekitar 500 kasus suspek, namun hanya sebagian kecil yang terkonfirmasi positif setelah pemeriksaan laboratorium.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti menjelaskan, seseorang dikategorikan sebagai suspek campak jika mengalami demam disertai batuk, pilek, atau mata merah.
“Jadi, seseorang dengan gejala demam ditambah batuk, pilek, atau mata merah itu sudah masuk kategori suspek campak,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
1. Dari jumlah itu, 10 kasus terkonfirmasi campak

Ia mengatakan, setiap kasus suspek akan ditindaklanjuti dengan pengambilan spesimen berupa darah dan urin untuk diperiksa di laboratorium rujukan di Jakarta. Jika hasilnya positif, maka baru ditetapkan sebagai kasus campak terkonfirmasi.
Dari ratusan kasus yang dilaporkan, sekitar 10 orang dinyatakan positif campak. Sementara itu, sebaran kasus suspek terjadi hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Serang.
Menurut Istianah, peningkatan kasus tidak hanya terjadi di Serang, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Banten hingga tingkat nasional. Salah satu penyebab utamanya adalah menurunnya cakupan imunisasi sejak pandemi COVID-19.
“Pada masa pandemi, banyak posyandu tidak beroperasi sehingga layanan imunisasi terganggu. Dampaknya baru kita rasakan sekarang,” katanya.
2. Rendahnya cakupan imunisasi persulit terbentuknya imun

Ia menegaskan, rendahnya cakupan imunisasi berisiko menghambat terbentuknya herd immunity, sehingga potensi lonjakan penyakit menular seperti campak semakin besar.
Untuk penanganan, Dinkes Kabupaten Serang mengandalkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Setiap laporan kasus langsung ditindaklanjuti dengan penanganan dan pelacakan di lapangan.
“Begitu ada laporan, tim kami langsung turun untuk memastikan penanganan kasus dan melakukan pelacakan di lingkungan sekitar pasien,” ujarnya.


















