Harga Plastik di Tangerang Naik hingga 55 Persen, Omzet Pedagang Turun

- Harga produk plastik di Kabupaten Tangerang melonjak hingga 55 persen akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik global.
- Pedagang terpaksa menaikkan harga jual meski margin keuntungan tetap tipis, sementara konsumen sempat menunda pembelian karena seluruh toko mengalami kenaikan serupa.
- Omzet pedagang turun hingga 50 persen dan stok barang dikurangi untuk menghindari kerugian, dengan harapan kondisi pasar segera stabil kembali.
Tangerang, IDN Times - Kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik global mulai berdampak ke sektor hilir, termasuk komoditas plastik di dalam negeri. Di Kabupaten Tangerang, harga berbagai produk plastik dilaporkan melonjak hingga 55 persen dalam beberapa pekan terakhir.
Pantauan di Pasar Gudang, Tigaraksa, menunjukkan kenaikan harga terjadi secara bertahap sejak pertengahan Ramadan sebelum akhirnya melonjak tajam dalam waktu singkat.
Salah seorang pedagang, Eko mengungkapkan, kenaikan awalnya hanya sekitar Rp500 per unit. Namun, dalam kurun waktu sepekan, harga langsung meroket hingga Rp5 ribu per unit.
“Dari yang awalnya modal Rp9 ribu, sekarang jadi Rp14 ribu,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
1. Pedagang terpaksa naikkan harga jual

Kondisi tersebut memaksa pedagang menaikkan harga jual, meski margin keuntungan tetap tipis. Eko mengaku hanya menambah sekitar Rp1 ribu dari harga modal, sehingga produk dijual Rp15 ribu per unit.
Ia juga menyebut hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan, terutama plastik bening berbahan baku murni. Sementara plastik hitam dari bahan daur ulang relatif lebih stabil.
Dari sisi permintaan, konsumen sempat menunda pembelian karena keberatan dengan kenaikan harga. Namun, setelah membandingkan dengan toko lain, pembeli tetap melakukan transaksi karena harga yang seragam.
“Awalnya komplain, terus mereka cek ke toko lain, ternyata sama-sama naik, akhirnya tetap beli,” katanya.
2. Omzet pedagang juga alami penurunan

Meski transaksi masih berjalan, omzet pedagang mengalami penurunan signifikan. Eko menyebut pendapatan hariannya yang sebelumnya mencapai Rp2 juta hingga Rp2,5 juta kini sulit menembus Rp1 juta.
Pedagang lain, Afdal, juga mengalami hal serupa. Ia mengaku omzet tokonya turun hingga 50 persen, dari Rp2 juta menjadi sekitar Rp1 juta per hari.
Selain itu, pedagang kini mengurangi stok barang untuk menghindari kerugian akibat fluktuasi harga. Jika sebelumnya mereka bisa menyimpan stok hingga satu bulan, kini pembelian hanya dilakukan untuk kebutuhan satu hingga dua hari.
Kenaikan harga juga terjadi pada produk turunan seperti styrofoam. Harga yang sebelumnya Rp22 ribu kini naik menjadi Rp30 ribu per kemasan.
Para pedagang berharap kondisi pasar segera stabil agar aktivitas perdagangan kembali normal. Mereka menilai kenaikan harga ini tidak terlepas dari dampak konflik global yang memengaruhi pasokan bahan baku impor.


















