Serang, IDN Times – Dua pekan pascalongsor di lereng Gunung Kaupas, tepatnya sejak 6 Januari 2026, sebanyak 367 warga Kampung Cibodas, Desa Kadubereum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, masih bertahan di lokasi pengungsian. Warga belum berani kembali ke rumah lantaran khawatir terjadi longsor susulan.
Camat Padarincang, Agus Saepudin mengatakan warga yang tinggal dalam radius sekitar 300 meter dari titik longsor masih diungsikan. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan, sebab hingga kini suara gemuruh dari area longsor masih kerap terdengar, terutama pada malam hari.
“Warga yang rumahnya dekat dengan lokasi longsor masih kami mengungsikan karena masih ada potensi longsor susulan. Sampai sekarang suara gemuruh masih terdengar,” kata Agus, Selasa (20/1/2026).
2 Pekan longsor Gunung Kaupas, 367 Warga Serang Masih Mengungsi

Intinya sih...
Batas pengungsian menunggu putusan bupatiPara pengungsi menempati Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Roudhotunnazah. Batas waktu pengungsian masih menunggu keputusan Bupati Serang.
Fenomena tanah longsor masih dikaji ahli di BandungTim ahli di Bandung sedang mengkaji hasil observasi lapangan untuk menentukan apakah wilayah tersebut sudah aman atau masih berisiko.
Warga mulai jenuh di pengungsian, tapi takut kembali ke rumahSalah satu pengungsi, Yuyun (32), merasa jenuh tinggal di pengungsian selama dua pekan terakhir. Namun, trauma akibat longsor membuatnya belum berani kembali ke rumah.
1. Batas pengungsian menunggu putusan bupati
Para pengungsi, termasuk kelompok lanjut usia, sejak awal bencana menempati Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah Roudhotunnazah yang berada di samping Kantor Desa Kadubereum.
Di lokasi tersebut telah didirikan dapur umum dan tiga toilet darurat untuk memenuhi kebutuhan dasar warga.
Terkait batas waktu pengungsian, Agus menuturkan hal itu masih menunggu keputusan Bupati Serang. Pemerintah daerah saat ini masih menanti hasil kajian teknis terkait kondisi lereng Gunung Kaupas, termasuk potensi longsor lanjutan.
“Kaitannya (batas waktu pengungsian) itu kebijakannya nunggu putusan Ibu Bupati,” ujarnya.
2. Fenomena tanah longsor masih dikaji ahli di Bandung
Agus menjelaskan, hasil observasi lapangan saat ini tengah dikaji oleh tim ahli di Bandung. Kajian tersebut akan menjadi dasar penentuan apakah wilayah tersebut sudah dinyatakan aman atau masih berisiko.
Hingga saat ini, tidak ada korban jiwa maupun kerusakan rumah akibat longsor susulan. Meski demikian, warga diminta tetap bersabar dan mengikuti arahan pemerintah. “Kami diamanatkan, termasuk kepada Pak Lurah, agar masyarakat Kampung Cibodas sementara ini bertahan di pengungsian sambil menunggu keputusan Bupati berdasarkan hasil kajian dari Bandung,” kata Agus.
3. Warga mulai jenuh di pengungsian, tapi takut kembali ke rumah
Salah satu pengungsi, Yuyun (32), mengaku mulai merasa jenuh tinggal di pengungsian selama dua pekan terakhir. Namun, trauma akibat longsor membuatnya belum berani kembali menetap di rumah.
Yuyun mengaku sesekali pulang ke rumah pada siang hari untuk mengambil barang-barang keperluan. Ia menghindari datang pada malam hari karena longsor susulan kerap terjadi saat kondisi gelap.
“Masih takut, trauma. Kemarin aja kejadian lagi, tapi alhamdulillah rumah aman. Sebenarnya ingin cepat pulang,” ujarnya.