ESDM Banten Dorong Pembentukan Gugus Tugas Hemat Listrik

- Dinas ESDM Banten mendorong pembentukan gugus tugas hemat listrik di setiap gedung pemerintahan untuk menekan konsumsi energi sesuai arahan Gubernur Banten.
- Penerapan manajemen energi terbukti menurunkan biaya listrik dari Rp24 juta menjadi Rp8 juta per bulan, dan seluruh OPD diminta menerapkan pola efisiensi serupa.
- Tantangan utama program ini adalah perubahan perilaku pegawai, sehingga manajer energi berperan penting dalam memastikan disiplin penggunaan listrik dan penerapan teknologi hemat energi seperti PLTS dan lampu LED.
Serang, IDN Times – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten mendorong pembentukan gugus tugas penghematan listrik di setiap gedung perkantoran milik Pemerintah Provinsi Banten. Langkah itu merupakan tindak lanjut atas arahan Gubernur Banten dalam upaya menekan konsumsi energi listrik di lingkungan pemerintahan.
Kepala Dinas ESDM Banten, Ari James Farrady, mengatakan saat ini pihaknya telah memiliki tujuh orang manajer energi atau pengelola gedung serta dua auditor energi bersertifikat yang bertugas melakukan audit penghematan secara berkala.
1. Satgas wajib inventarisasi penggunaan listrik setiap gudang

Menurut Ari, setiap gedung perkantoran nantinya diwajibkan memiliki pengelola gedung yang akan tergabung dalam gugus tugas. Mereka bertanggung jawab menginventarisasi fluktuasi penggunaan listrik setiap bulan.
“Setiap gedung harus ada pengelola atau manajer energi yang bertugas menginventarisasi penggunaan listrik dan potensi penghematannya,” ujar Ari, Jumat (10/4/2026).
Setelah gugus tugas terbentuk, Dinas ESDM akan memberikan sosialisasi terkait langkah-langkah efisiensi energi yang telah diterapkan di internal instansinya. "Pemantauan juga akan dilakukan secara rutin setiap bulan," katanya.
2. Langkah itu terbukti efektif menekan tagihan biaya listrik

Ari mengungkapkan, penerapan manajemen energi di kantornya terbukti mampu menekan biaya listrik secara signifikan. Dari sebelumnya mencapai Rp24 juta per bulan, kini turun menjadi sekitar Rp8 juta.
“Ini penghematan yang sangat signifikan dan bisa diterapkan di perangkat daerah lainnya,” katanya.
Ia pun mendorong seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di Banten untuk menerapkan pola serupa. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memastikan seluruh perangkat elektronik dimatikan setelah jam kerja.
“Pastikan lampu, AC, dan komputer dalam kondisi mati saat tidak digunakan. Disiplin terhadap hal kecil bisa berdampak besar pada efisiensi anggaran,” ujarnya.
3. Perubahan prilaku jadi tantangan dalam realisasi hemat energi

Ari menilai, tantangan terbesar dalam program ini bukan pada aspek teknis, melainkan perubahan perilaku pegawai.
Oleh karena itu, keberadaan manajer energi dinilai penting untuk memastikan program berjalan sistematis dan terukur. Beberapa langkah teknis yang telah diterapkan, antara lain pengaturan suhu AC di angka ideal 25 derajat Celsius.
Menurutnya, penggunaan AC pada suhu terlalu rendah seperti 16 derajat dapat meningkatkan konsumsi listrik hingga 7–10 persen.
Selain itu, ESDM juga mendorong penggunaan lampu LED yang lebih hemat energi dibandingkan lampu konvensional, serta optimalisasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap berkapasitas 25 kWp yang mampu menyuplai sekitar 11–15 kW per hari saat cuaca cerah.
“Pemanfaatan PLTS menjadi salah satu faktor utama dalam menekan tagihan listrik,” jelasnya.
Langkah lainnya adalah mencabut kabel perangkat elektronik yang tidak digunakan, seperti printer dan televisi yang masih dalam kondisi standby, serta mematikan komputer yang tidak digunakan lebih dari 30 menit.
"Dengan berbagai upaya tersebut, Pemprov Banten diharapkan mampu menekan konsumsi energi secara signifikan sekaligus meningkatkan efisiensi anggaran daerah," katanya.


















