Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jadi Tujuan Health Tourism, KEK Tangerang Bisa Hemat Devisa Rp1,5 Triliun

Jadi Tujuan Health Tourism, KEK Tangerang Bisa Hemat Devisa Rp1,5 Triliun
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Rizal Edwin Manansang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)
Intinya Sih
  • KEK D-Hub SEZ BSD City di Tangerang ditetapkan lewat PP No.38/2024 dan berpotensi hemat devisa Rp1,5 triliun per tahun dari sektor kesehatan melalui pengembangan Health Tourism.
  • Proyek KEK Banten diproyeksikan buka 13 ribu lapangan kerja dalam 20 tahun dengan investasi total Rp18,8 triliun, serta realisasi awal Rp1,9 triliun hingga akhir 2025.
  • Pembangunan Gedung Medical Suite ditarget rampung September 2026 untuk menampung lebih dari 25 tenant klinik spesialis dan universitas kesehatan berstandar internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tangerang, IDN Times - Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Rizal Edwin Manansang, mengungkapkan KEK yang berada di Tangerang bisa menghemat devisa negara yang terbuang sia-sia sebesar Rp1,5 triliun. Hal tersebut utamanya dari sektor kesehatan.

Salah satu KEK yang saat ini masih dikembangkan yakni health tourism, di mana masyarakat yang tadinya berobat di luar negeri bisa memilih untuk berobat di Indonesia yang memiliki kualitas setara dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan berstandar Internasional.

"Devisa kita terbuang di luar negeri seperti di Singapura sampai Rp150 triliun setahun, nah itu kami ingin tarik mereka ke sini supaya mereka kalau mau berobat datang aja ke Banten," kata Rizal di Tangerang.

Diketahui, KEK di kawasan D-Hub SEZ BSD City, Kabupaten Tangerang telah ditetapkan melalui Peraturan Pemeritnah Nomor 38 Tahun 2024 dan resmi beroperasi pada November tahun lalu.

1. KEK di Banten juga bisa buka 13 ribu lapangan kerja

Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Rizal Edwin Manansang
Plt. Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Rizal Edwin Manansang (IDN Times/Maya Aulia Aprilianti)

Selain itu, Rizal mengungkapkan, KEK yang berlokasi di kawasan tersebut akan bisa membuka 13 ribu lapangan kerja di Banten dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Selain itu, KEK tersebut juga diproyeksikan mampu mencapai investasi hingga Rp18,8 triliun.

"Hingga akhir tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp1,9 triliun dan menyerap 836 tenaga kerja serta melibatkan 14 pelaku usaha," ungkapnya.

2. Terdapat penambahan gedung Medical Suites untuk klinik kesehatan dan pendidikan

Medical Suites di Kawasan Ekonomi Khusus Banten
Medical Suites di Kawasan Ekonomi Khusus Banten

Sementara itu, Kepala BUPP KEK ETKI Banten, Lindawaty, mengungkapkan penambahan gedung kedua di kawasan KEK Banten adalah Gedung Medical Suite yang berlokasi di kawasan Special Economic Zone. Gedung ini ditargetkan selesai dan mulai diserahterimakan kepada para tenant pada September 2026.

Medical Suite dirancang sebagai gedung layanan kesehatan yang akan disewakan kepada berbagai tenant, seperti klinik, laboratorium, dan fasilitas kesehatan lainnya. Fokus utama pengembangannya adalah pada klinik spesialis.

"Ke depan, gedung ini akan diisi lebih dari 25 tenant, mengingat luas bangunan yang cukup luas. Saat ini, proyek masih dalam tahap konstruksi dan proses fitting out tenant akan dilakukan setelah pembangunan selesai," ungkapnya.

3. Klinik dan universitas kesehatan berstandar internasional juga bakal mengisi

Medical Suites di Kawasan Ekonomi Khusus Banten
Medical Suites di Kawasan Ekonomi Khusus Banten

Sejumlah layanan yang ditargetkan di dalam Medical Suite didominasi oleh klinik spesialis, antara lain klinik penyakit spesifik, Layanan estetika, terapi stem cell dan layanan fertilitas (IVF).

"Fasilitas ini diharapkan mampu menghadirkan layanan kesehatan dengan standar tinggi dan berorientasi pada kebutuhan pasar kesehatan modern," ujarnya.

Selain itu, universitas kesehatan juga bakal ada di kawasan tersebut untuk memenuhi tenaga kerja profesional yang juga berstandar internasional.

"Sehingga, tenaga kesehatan yang ada di Indonesia juga bisa 'diimpor' ke luar negeri," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest News Banten

See More