Jemaah POUK Tesalonika Teluknaga Beribadah dengan Rasa Trauma

- Ibadah Jumat Agung jemaat POUK Tesalonika di Teluknaga berlangsung dengan pengamanan ketat dari aparat, setelah sebelumnya mengalami persekusi dan penyegelan rumah doa oleh pemerintah daerah.
- Jemaat merasa belum mendapat perlakuan setara sebagai warga negara, karena fasilitas ibadah yang disediakan kurang memadai dan menimbulkan kesulitan bagi lansia serta penyandang disabilitas.
- Sejak 2008 jemaat Tesalonika telah menghadapi persekusi berulang, namun tetap berjuang membangun rumah doa sendiri dan berharap memiliki tempat ibadah permanen di lingkungan mereka.
Tangerang, IDN Times - Momentum Perayaan Jumat Agung di rumah doa Yayasan Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) Tesalonika yang berlokasi di Perumahan Mutiara Garuda, Teluknaga, Kabupaten Tangerang dijaga puluhan personel polisi, TNI, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Pantauan IDN Times di lokasi, aparat tersebut membawa perlengkapan, seperti motor trail dan sebagainya.
Diketahui, jemaat ini sempat mengalami persekusi dan videonya viral pada perayaan yang sama pada 2024. Bahkan, pada tahun 2025, rumah doa ini pun disegel oleh Pemkab Tangerang karena disebut belum memiliki izin. Rasa trauma pun tak dipungkiri ada dan berkecamuk dalam dada. Khawatir persekusi kembali terulang, seperti yang dirasakan salah satu jemaat, Jojor Pasaribu (66).
"Ya, kekhawatirannya ada, tapi kami yakin bahwa beribadah itu kan memuji Tuhan gitu ya. Artinya, kami kan menyucikan diri dengan beribadah, bukan berbuat hal-hal yang gak baik gitu. Masa sih kita harus diganggu lagi gitu, kan," ungkap Jojor ditemui usai ibadah.
1. Ibadah diizinkan dilaksanakan di rumah doa, namun dijaga puluhan polisi

Pendeta Michael Siahaan yang merupakan pimpinan jemaat ini mengatakan, pihak Kecamatan Teluknaga sempat mengirimkan surat untuk memberikan tempat pelaksanaan ibadah Jumat Agung, yakni di Rumah Makan Saung Ibu dan Aula ex-Kecamatan Teluknaga.
"Kami katakan bahwa ibadah Jumat Agung ini sakral bagi kami, maka kami perlu kekhusukan, bukan hanya bicara pindah sana-sini, tetapi kami butuh kekhusukan untuk ibadah," kata Michael.
Michael mengungkapkan pada Kamis, 2 April 2026, siang, pihaknya pun lantas menemui Forum Komunikasi Kecamatan (Forkomca) untuk mendiskusikan perihal keresahan para jemaat. Apalagi, rumah makan dinilai jemaat tak mampu mendukung prosesi-prosesi Jumat Agung yang sangat sakral bagi umat Kristiani.
"Karena dalam perayaan Jumat Agung itu, kalau di Katolik namanya misa perjamuan khusus yang waktunya lama, sehingga kemarin kami meminta bahwa kebutuhan akan ibadah jangan di aula yang difasilitasi dan bersyukurlah dikabulkan dan juga ada pengamanan sehingga ketenangan untuk ibadah," ungkap Michael.
2. Jemaat merasa umat kristiani seperti warga kelas dua

Bhineka Tunggal Ika memang nampaknya kurang dirasakan oleh jemaat Tesalonika ini. Usai dipersekusi pada 2024 lalu, ia diberi tempat di Aula eks-Kecamatan Teluknaga yang tidak memiliki fasilitas memadai. Misalnya saja, untuk toilet yang berjarak 200 meter dari gedung Aula dan akses yang cukup jauh dari rumah masing-masing.
Padahal, pantauan di lokasi, terdapat jemaat lanjut usia yang disabilitas hingga harus digendong oleh suaminya yang juga lansia. Belum lagi, banyak pula anak-anak yang menjadi jemaatnya.
"Kami kan bukan rakyat kelas dua. Bicara kesetaraan itu kan setara di antara masyarakat Indonesia, membawa agama masing-masing, sebagaimana fasilitasnya juga memadai. Jadi, kami pengennya sih ada tempat yang secara permanen sehingga tidak ada lagi kekhawatiran," ungkap Michael.
3. Persekusi sudah dirasakan jemaat ini sejak 2008

Mirisnya, jemaat Tesalonika bukan hanya merasakan persekusi ini pada tahun 2024 saja, melainkan sejak 2008 lalu, ketika pelaksanaan ibadah dilakukan di rumah salah satu jemaat di perumahan yang sama, hanya beda blok. Kali itu, persekusi dilakukan oleh kelompok yang mengaku dari Front Pembela Islam (FPI).
Saat itu, mereka menurut, kegiatan ibadah lantas dihentikan di rumah tersebut. Jemaat pun mencari alternatif tempat, dan didapatkan di salah satu gedung gereja salah satu maskapai di Bandara Soekarno-Hatta. Sayangnya, lokasi yang jauh membuat jemaat lansia kesulitan mengakses lokasi, bahkan jemaat yang tadinya berjumlah 140 orang pun menurun drastis.
Mereka pun bertahan beribadah di Bandara Soekarno-Hatta hingga tahun 2020. Yayasan akhirnya memiliki dana untuk membeli lahan seluas 1.125 hektare dan membangun rumah doa berbentuk aula yang digunakan saat ini seluas 200 meter selama 3 tahun dengan dana patungan.
"Kami membangun rumah doa ini dengan berdarah-darah," jelasnya.
4. Jemaat ingin memiliki tempat beribadah permanen

Michael pun ingin jemaat Kristiani POUK Tesalonika memiliki tempat beribadah permanen di sekitar kediamannya. Apalagi, di Perumahan Mutiara Garuda juga banyak jemaah kristiani yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk beribadah. Michael ingin, jemaatnya juga merasakan mudah beribadah seperti halnya umat beragama lainnya.
"Kalau umat Islam meninggal dibawa ke masjid dekat, kalau jemaat kami ada yang meninggal dibawa ke mana?" pungkasnya.


















